LEBIH DARI SEORANG JAWARA KELAS!

Image

Hahaha, what a small world it is Ratih. Yes, superb Agus indeed. He will run half Sundown marathon by the time I left him just now. THAT is superb indeed!! Hope you are also well! -Mas Nanang Chalid, KAGAMA-IR 1999, HR Unilever Thailand 

The best pic on this week: when two superb people met up in Singapore.

Persahabatan itu sungguh diluar ekspektasi dan radar alam sadar manusia. Kita tidak pernah tahu esok akan bertemu siapatrust – klik – connect – chemistry bersama siapa dan mengisi hari-hari dengan siapa.

Dunia itu sempit. Dari foto tadi pun terlihat: saya mengenal baik dan menjadikan mereka sebagai mentor dan tauladan, namun saya tidak pernah terpikir bahwa keduanya saling bersahabat, bertemu bahkan pertemuan di luar Tanah Air dari dua negara penugasan berbeda, Singapura dan Thailand.

Well, mas Agus, ex. Brand Manager saya dan mas Nanang Chalid, kakak angkatan ter-welcome di HI. Keduanya saksi hidup pertumbuhan personal development saya. Dari keduanya saya belajar memiliki semangat berprestasi dan passion luar biasa. Pastinya, loyalitas tinggi. Mereka PARA JAWARA KELAS yang gak cuma bekerja keras dalam rutinitas.

Saya pun mengakui bahwa teman yang seru pun bisa kita dapat disaat masa bekerja dikala tugas pekerjaan menumpuk, gak cuma dibangku sekolah. Mengapa? karena kita butuh partner dalam mengingatkan bahwa ada kehidupan yang juga seru sebagai jeda 12 jam office hours.

Dunia kerja itu menyenangkan saat kita dapat menemukan feel, mengelola passion atau yang bukan passion menjadi passionate. Dunia kerja tidak hanya tentang datang pagi – absen – sarapan – cek komputer – absen pulang – selesai. Beyond this. Kita menemukan keluarga baru, teman dan sahabat saat memang satu frekuensi pastinya. I did!

Berhati-hatilah dalam menikmati dunia kerja (remind to myself) karena dapat menenggelamkan kehidupan lain yang melekat inherent dalam diri manusia. -pesan most of seniors at my office.

Melengkapi semangat menuju pengumuman penempatan PCS OJK I pada mid Juni 2014 nanti, rupanya foto pertemuan antara ex. boss di ULI dan senior di HI menginspirasi saya bahwa di kantor baru ini saya pun harus dapat menjaga semangat bermain, belajar dan keluarga.

Mari menjadi LEBIH DARI SEORANG JAWARA KELAS! 

Selamat datang bulan Juni 2014. Semoga berkah untuk semua. 

*credit to both of them, Mas AGS -Unilever Singapore & Nanang Chalid -Unilever Thailand. my writing just simply for legacy, Her-Story. hehehe Salam hormat, komandan!

*untuk kawan angkatan PCS, welcome to the club

Advertisements

Ayah

Image

Bersama Ayah, di gang Wologito, Juli 2012

Ndak papa, ayo berangkatlah dengan tenang. Ini amanah. Harus dijalankan -Pesan Ayah, 2011

Pesan tersebut Ayah sampaikan saat melepas kepergian saya berangkat ke Jepang untuk beasiswa pertama saya. Ibu tidak berkenan berangkat, beliau memilih mengantar hingga teras rumah kami dengan duduk sedih. Itu merupakan kali pertama saya meninggalkan Tanah Air dalam waktu cukup lama (bagi Ibu) ditambah Ramadhan dan Idul Fitri 2011 tidak merayakan bersama mereka. Meski sebelumnya, saat melepas saya berangkat ke London, 2010 Ibu dengan semangat. Secara waktu memang lebih singkat, namun itu pertama kali saya merantau jauh dari Tanah Air, ada Ibu yang menghilangkan ketakutan saya pada keberangkatan 2010. Itulah Ayah dan Ibu saling melengkapi.

Kembali pada Ayah, kata orang kebanyakan, saya anak Ayah; saya duplikat Ayah; tante itu mirip Ayah, Bil (jelas kakak Ipar pada ponakan). Entah apapun itu, saya bahagia memiliki dua puluh tujuh tahun bersama Ayah hingga hari ini. Banyak waktu yang kami lewatkan bersama. Chemistry itu sungguh luar biasa. 

Saya akui karakter diri saya dominan menurun dari Ayah. Kebiasaan kami pun mirip.

Bagi saya, Ayah adalah teman hidup yang luar biasa. Ayah tidak pernah berkata kasar pada saya, apapun itu beliau sampaikan dengan halus dan penuh rasa sayang. Saya bagi Ayah (mungkin) adalah navigator handal dalam menemaninya berkendaraan. Kami banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan bercerita apa saja, guyon dan sudah pasti curhat.

Ayah adalah seksi transportasi dalam keluarga kami. “Dek, di jemput jam berapa…adek, kondangan jam berapa?” merupakan pesan ternyaman saat pulang sekolah, pulang selepas merantau, bahkan kondangan pun bersama Ayah. hehehe

Hingga saat ini, pasti akan ada rebutan untuk dipijit oleh Ayah: Kakak, saya dan si Bil. OMG! ini anak-anak sudah besar-besar bukannya mijitin Ayahnya namun sebaliknya. Justru, pijitan Ayah luar biasa untuk mengobati titik kenormalan badan kami. Ayah menularkan ilmu tsb pada saya, sayang belum telaten seperti beliau. heheh

Ayah itu sangat legowo dan penyabar. Saking legowo dan penyabarnya saya pun jadi sering protes. Beliau sangat ber-positive thinking dalam hidup dalam keadaan apapun dan kepada siapa pun. Termasuk saat antriannya disebrot orang. Sepele, tapi kalau itu saya sudah saya tegur (ups, ini baru Ibu banget).

Ayah berwajah ceria saat anaknya bahagia dan sukses menyelesaikan tugasnya. Ayah penerima rapor kami berdua. Baik buruknya nilai dan ranking kami, Ayahlah yang tahu. Jadi, Ayah lebih hits dikenal oleh teman-teman semenjak SD hingga SMA. Ibu banyak tidak dapat ijin mengambil rapor karena kampus tempat ibu bertugas sangat jauh di pinggir kota Semarang. Kalo Ayah mah tinggal jalan kaki ke SMA 1. ehehehe Saat kakak wisuda, Mei 2006, Ayah dan Ibuk bangga karena kakak lulusan dengan waktu tersingkat. Kembali ke GSP untuk wisuda saya 2008, katanya beliau bangga karena 2005 cuma saya dan Tika yang wisuda bersama kakak-kakak. Wisuda S2 saya, lumayan membuat lega mengingat jatuh bangun thesis saya luar biasa butuh kesabaran. Terakhir beliau bilang bangga saat pengumuman Otoritas Jasa Keuangan dan promosi Kakak di kantor. Sungguh rejeki kami, ini semua rejekinya Ayah dan Ibu.

Ayah itu sosok yang loyal. Beliau akan melakukan hal terbaik pada keluarganya dan lingkungannya. Beliau peduli untuk rela berkunjung rutin sodara kami yang opname baik melahirkan dll.

Ayah sangat hormat pada orang tua. Beliau memberikan contoh terbaik bagaimana menghormati sosok orang tua, terutama Ibu. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana menyayangi dan menghormati orang tua hingga akhir hayat itu tiba. Ayah senantiasa tegar menghadapi masa kehilangan orang tuanya. Menurutnya, itu sudah takdir. Banyak hal lebih prihatin yang ia lalui sebagai anak tunggal. Topik mengenai sejarah Indonesia, wayang Jawa, keluarganya dan masa kecilnya menjadi andalan saat kembali menikmati desa Cawas, Klaten. Dan sebagai partner perjalanan yang baik, saya membebaskan pikiran dan memori Ayah mengulang kenangan tsb. Dari Ayah, saya belajar bagaimana menjadi teman perjalanan yang menyenangkan dan dapat diandalkan. “sudah jangan menangis, saya gandeng erat tangan Ayah sembari jenazah simbah putri berangkat dikuburkan…” itu hari terakhir saya melihat Ayah melihat Ibunya untuk terakhir kali, 2013. Tahun pertama kali kami tidak merayakan Idul Fitri bersama simbah. Dan saya lega dapat mendampingi beliau pada situasi kurang baik tsb.

Ayah tidak senang saat kita tidak berkomitmen dengan baik. Inilah kesamaan Ayah dan Ibuk. Beliau berdua sangat fokus melihat bagaimana setiap orang melakukan komitmennya dengan baik. Saat ingin punya tujuan A, persiapkan dan lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Singkatnya, waktu itu berarti sangat penting.

Ayah tidak senang korupsi. Teringat bagaimana Ayah meniti karirnya dari nol – masa jaya – pensiun. Saat saya duduk dibangku SD – SMA itulah masa dimana Ayah sedang berada dititik baik karirnya di kantor. Tidak heran bagi kami karena beliau punya integritas, kompeten dan jujur. Pesan nilai kejujuran merupakan pesannya yang utama. Alhamdulillah disaat teman-temannya masuk dalam bui karena korupsi, Ayah selamat. Belakangan saya tahu bahwa tidak mudah berada dalam kondisi lingkungan buruk namun harus tetap jujur. Beliau bercerita, “dulu saat njabat, pilihan Ayah hanya dua, dek: hidup panjang umur tapi tidak njabat atau njabat tapi tidak panjang umur. Saat itu Ayah bermimpi ditembak orang” –ceritanya dalam suatu hari perjalanan ke desa. Alhamdulillah, ayah tetap istiqomah.

Ayah sangat menghargai persahabatan. Saya dan Ibu tidak jarang ikut Ayah reuni dan berkunjung ke rumah om abc untuk memberikan waktu bagi Ayah bertemu sahabat-sahabatnya. Beliau pun ingin silaturahmi itu tidak diputus “Biar Ayahmu refresh dan senang…” jelas Ibu untuk memberi ruang

Ayah itu cinta pada tanaman. Inilah persamaan kedua dengan Ibuk. Ayah cenderung senang menanam pepohonan dan buah-buahan. “Aku loh dapat kiriman Lengkeng maniiis sekali dari Ayahmu tadi…Pakdhe biasa seneng open-open(merawat)” seorang sahabat, Isti Maya, menyampaikan pesannya dikala pesta panen Wologito namun saya sedang merantau. Selain lahan sekitar rumah kami, Ayah loyal cinta pada pohon hingga harus menempuh perjalanan di pinggir Semarang untuk merawat pohon-pohonnya. Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh kami pasca Ayah pensiun. “Eyangkung ko jadi belang tangan dan wajahnya sih beda dengan badanya yaa..nanti kan dikira eyangkungku hitam” -si Bil said. HAHAHA

Ayah senantiasa rajin berpuasa dan sholat di malam hari. Baginya, malam dikala semua orang terlelap, justru itu waktu utama. Kebiasaan ini sangat patut dan layak dicontoh. Untuk puasa, kakak lebih telaten dibanding saya. Teringat kakak puasa nazar yang cukup lama saat ketrima UGM. “mas Rachman dari kuliah memang sudah senang hidup prihatin… nular ke anak-anaknya… semoga jadi orang kayak Bapaknya..” -komentar entah pakdhe siapa saat kami di desa. Seperti biasa, dengan humble Ayah menimpali, “sudah sewajarnya orang hidup harus demikian…” . 

Ayah itu njawani tur mriyayeni. Ayah itu sangat tipe orang Jawa sekali dan berusaha meng-orang-kan orang lain agar seperti priyayi (mengingat kami bukan orang keraton dan berada).

Ayah itu paling bisa menjaga perasaan orang lain. Selain tutur kata yang lembut dan kalem. Ayah akan menyenangkan hati orang lain. Ayah akan mengirim sms pada kami, just reminder: “dek, ndak lupa sms Ibumu/ kakakmu ulang tahun. Kamu adalah salah satu alasan Ibu tetap semangat dalam hidup”. Dan Ayah akan sedih dan marah dengan diam saat anak-anaknya membuat sedih Ibu. Sayalah mungkin yang paling banyak membuat kepayahan daripada kakak.

Ayah dan Saya senang membaca buku, mengikuti berita dan berdiskusi. Sebenarnya satu rumah sama sih. Hanya saja waktu diskusi bersama Ayah lebih banyak dibanding lainnya.

 Matur sembah suwun Ayah untuk semua waktu dan kasih sayangnya bersama kami.  

Dek, sungkem kagem Bapak -Mbak Rina, sepupu, 2006

si Bil, kamu sudah melewatkan waktu bersama Eyangkung paling tidak lima tahun ini. Ada yang unik, saat ada EyangKung kamu akan memilih apa-apa Eyangkung. Pokoknya Bunda, tante, Ayah dan Eyangti banyak ga laku deh. Si Bil, EyangKung sudah merasakan kehadiranmu saat Bundamu akan melahirkanmu lebih awal. EyangKung meminta EyangTi untuk segera cuti dan berangkat ke Bintaro bersamanya. Tante saja heran ko lebih cepat datang. Dan benar, kamu lahir lebih awal, Bil pada 18 Juni 2009.

 

 

Ibu

So si Bil, hiduplah teratur dan rajin seperti eyangTi…

Ibu, pendidik sejati. Teladan bagi kami sekeluarga, para mahasiswanya.

Ibu berupaya sekuat tenaga bertanggung jawab agar kami tumbuh berkecukupan dan memastikan bekal untuk sukses di masa depan.

Ayah adalah teman terbaik yang Ibuk miliki. Keduanya tidak selesai tumbuh dewasa bersama dan saling melengkapi hingga eyang-eyang saat ini.

Hidup hemat dan sederhana adalah pilihan lifestyle-nya dan beliau didikan pada kami.

Jam weker merupakan hal yang sangat identik dengan Ibu saya. Tepat pukul 04:00 pagi, beliau bangun pagi, bisa jadi lebih awal. Saat Ibu bangun, itulah arti kehidupan di rumah Wologito dimulai. Teringat saat jam tangan saya hilang, beliau meminjamkan arloji kesayangannya untuk saya pakai agar tahu waktu saat ujian berlangsung. Sehari tanpa arloji, mungkin baginya butuh adaptasi.

Image

Bersama Ibu, Kelulusan UGM, 2008

Bekal makanan menurutnya menjadi hal wajib yang harus beliau siapkan dan wajib dibawa oleh anak-anaknya dan mereka yang berkunjung ke rumah (jika beruntung ada beliau). Hiks, sudah disiapkan tinggal membawa tapi ko saya dan kakak ipar sering mengurangi jatah kami karena malas berat dan riweuh. Kebiasaan saya dan kakak saat di Jogja, saling langsung mengunjungi kost “Ini ada bekal dari Ibuk untukmu, diambil atau diantar…”. 

Prestasi dan rajin menjadi penilaian utamanya dalam fokus pada suatu hal. Hidup harus punya tujuan.

Sprei bersih dan handuk bersih telah tersedia di kamar nyaman mungkin rasa hatinya senyaman menyambut anak-anaknya pulang ke rumah Wologito selepas merantau.

(Terlalu) baik pada mahasiswa menjadi sifat Ibu saya. OMG! sejuta usaha akan beliau ikut upayakan membimbing para mahasiswa bimbingannya. Bahkan line telpon dan pintu rumah pun terbuka untuk mereka. Ini menjadi luar biasa karena culture HI-UGM tidak seluwes tsb.

Jus buah dan sayur menjadi menu utama beliau. Dan hobinya membagi hasil panen buah untuk orang sekampung.

Bunga dan taman adalah hobi yang menyenangkan untuknya. Rumah Wologito nan asri karena tangan beliau.

Wajah sedih saat kami tidak makan dengan antusias, merindukan kehadiran kami dan orang lain kesusahan. Dan saat kami tidak patuh karena beliau telah berupaya menjadi working-mom. 

Ya Allah Maha Pengasih, senantiasa lindungi beliau. Bahagiakan dan tentramkan hatinya. 

It is not easy being a Mom/ Dad. It is not easy being a wife/ husband. It is not easy being working parent. But she always reminds and supports us on this, just because she wants her children have partner life who taking care for each other in life and being a great parent who can work-life balance for family. She suffers from DM since 2002, it has been changed our family. Mom have to diet and concern with her condition. She is very lucky person having my father who can accompany her everytime (everywhere). She will teach until 65 yo, may Allah bless you, Mom. hehehe Thank You, Ibuk. Alhamdulillah.

si Bil, being a great person (with our limitedness) is very amazing

Image

OMG, I did not know when my best friend, Dameria Swadesi, was looking for me. She asked to everyone, “do you know Ratih’s brother phone number… do you know people who closed to Ratih?…. etc”

Still not aware that friends looking for me, I was login my social media. Ups, I found the topic in there.

Then I checked my mobile phone: three hours after my mobile phone off, bipp bipp so many SMS, BBM, WA asked about my condition.

Si Bil, by this writing, I would like to say, being a great person (with our limitedness) is very amazing. Because, in life, we should not living alone with ourselves. Every human being was born to be a social person, make up your days with friends, teachers and stranger also. Please, still give the best services to them, just like what your family do it to you. “who knows one day you will meet them again… we do not know the future, we do not know if he/she need your help, you need his/her help… or you will work together with them… and the important is: they are our family also… we never know what will happen with our nuclear family in one day, we still must continue our life, right? so friends will be our family to fill our days” .

Please, as long as they have not hurt you, just still being a great person as usual. If sometimes person/people hurt you, just take your time to do reconciliation. God give us special time in this world to be happy everyday, be a great person, doing something good for people around you. It is not easy, but you can try it. Trust me, I did. And I believe that my parent will be happy when their children being a great people as always in life.

** Dedicated to my niece, si Bil. Credit to all my ex. International Organization for Migration Yogyakarta sub-office friends  and KAGAMA -Akt’04 who always being my family in my life. Take care, guys.

Eniwei the chronological: I accompanied all day Mrs. Dame and her husband looking for a house in Bintaro and gave the direction for go home (they are not familiar with Jakarta), then my mobile phone off for three hours. And you know Bil, they were be panic while we were watching Spiderman at home (you, your parent and I)…. HAHAHAHA actually the real reason I did not turn on as soon as possible my mobile phone just because I did not want to see ‘Read-signal’ bbm (from someone) which maybe it would made me dissapointed without jokes/ melted chat. unexpected, friends still loving me via bbm/ WA just for sharing or looking for me. HAHAHA. So please noted: give your emergency number to your friends/parent when you will go somewhere, text your friend when you already arrived at home & say thank you for today, and do not in a bad mood to others. Oks, Bil!

Terima Order: COOKING CLASS for KIDS dalam acara anak-anak

Terima Order     : COOKING CLASS for KIDS dalam acara anak-anak
Area                      : Jakarta, Tangsel, Depok
Package               : pls send your special custom to ratih.rsurachman@gmail.com
Common menu  : donat, pizza, cup cakes

Let’s have fun, KIDS!

Donat Class at AIRA's Birthday Party, 2014, Jagakarsa, Jaksel

Donat Class at AIRA’s Birthday Party, 2014, Jagakarsa, Jaksel

-Ratih & Daf, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan

Tes Masuk OJK: Pengumuman Penempatan

 “Ga lama lagi” -mas Bowie, KAGAMA FEB -03 said

“Ga lama lagi” buka amplop pengumuman penempatan. Well, meski waktu yang dimiliki tidak banyak lagi, at least rasa penasaran dan yang ditunggu akan tiba. Artinya, SELESAI penantian. Desas desus setiap saat mengenai penempatan merupakan topik yang ‘tabu’ diangkat namun tetap di-sharing-kan (piye jal itu yah?!?), terutama bagi mereka yang berkeluarga. Bukan berarti single tidak ikut bimbang. Hiks. *ngarep di Thamrin saja, ya Allah, deket Sta. Tnh. Abang.

Whatever, wherever pilihan DPSM nanti. Semoga tetap menjadi hadiah yang terbaik untuk kelancaran masa depan. Berpegang pada prinsip bahwa apa yang terjadi di masa depan adalah hasil upaya kita di masa sekarang. 

“Kalo ditanya kalian mau ditempatkan dimana itu biasa, pertanyaan saya anti mainstream: Bagaimana jika itu tidak sesuai harapan kalian?  apa yang akan kalian lakukan?” -pak Gatot, DPDP asked.

Pesannya: istighfar, bersyukur dan tersenyumlah.

***

“Ga lama lagi” 

“Ga lama lagi” -Iyeay sebentar lagi. Bismillaaah ya, Allaaaaaah.

… HAKDESH… “Ga lama lagi” SELESAI sehingga move on di tahap kehidupan lainnya. Pantaskan.

Kelas A @LPPI, Kemang

Kelas A @LPPI, Kemang

Well done, kegiatan Klasikal telah selesai dengan baik diselesaikan bersama teman-teman terbaik di kelas A PCS OJK Angkatan I OJK. Selain belajar, saya senang menikmati hari bersama teman-teman yang super hebat dan asyiiiik. BAHAGIA. HAPPY. Alhamduillaaaah, terima kasih kelas A.

Untuk mengingat kawan angkatan yang super, TRATA inilah mereka:

A1: Gati, Ratih P, Intan, Amini, Risti, Teto, Dharma, Devi, Sulton, Arsendi

A2: Yudha, Nisa, Dhita, Reza, Manda, Dudi, Rita, Carina, Dedy, Fadli

A3: Martini, Shiela, Sesa, Ratih, Mega, Nostra, Indah, Ebi, Ining, Bagoes, Pipit

A4: Maria, Ayu, Ulima, Rahma, Hendra, Tsara, Andi, Amah, Nia

A5: Desi, Cacha, Deta, Iyan, Willy, Aden, Arif, Malik Mulki, Hanif

A6: Fajar, Dandi, Adit, Cahya, Janggi, Alieta, Rahyang, Ceche, Dimas, Bintaro, Iffa.

Good luck, Kelas A! See you on TOP.