HIJRAH: Feels like ‘HOME’

Mengawali ‘peresmian blog baru’ ini sudah pasti saya akan menulis tentang keluarga -tempat dimana sekumpulan orang yang mencintai kita apa adanya dan dalam segala keadaan. Terdengar klise, namun keluarga-lah urutan pertama yang saya sebut dalam doa syukur di pagi hari, sebelum benar-benar membuka mata untuk beranjak bangun pagi.

“Sesuatu bisa mengubah kita, tapi kita mulai dan berakhir bersama keluarga kita”

*kalimat iklan SariWangi. Ups.

Blog sebelumnya, http://kuningorange.blogspot.com/ bukan menghilang, namun sepertinya perlu hijrah. Silakan jika ingin mampir melihat pelajaran pendewasaan manusia.

Yeap! Manusia pasti tumbuh, sebuah proses yang belum akan selesai hingga akhir hayat nanti. Ayah saya berpesan, senantiasa memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Well, itulah keluarga, senantiasa memberikan nasehat, dukungan baik materiil dan non, waktu yang mereka luangkan untuk menemani kita, dan segalanya mereka beri.

Dua puluh tujuh tahun sudah berada dalam keluarga kecil ala program pemerintah Orde Baru, Keluarga Berencana: Ayah, Ibuk, Kakak laki-laki, dan saya si bungsu wuragil. Dua puluh tujuh tahun dibesarkan dengan didikan orang tua jaman lama yang penuh disiplin, serba teratur dari bagun pagi hingga bangun pagi lagi, aktivitas yang padat, masa bermain yang menyenangkan bersama teman-teman dan tuntutan harus berprestasi sebagai bekal bertahan hidup melekat pada kami berdua anak Ayah dan Ibuk.

Well, kini saya harus benar-benar merasakan sejuta indahnya makna didikan beliau. Values tentang moral kehidupan yang beliau berdua ajarkan sungguh benar adanya membuat saya dapat bertahan hidup di perantauan. Saya sangat beruntung memiliki orang tua yang memperbolehkan setiap anaknya bepergian menuntut ilmu, karir dan kehidupannya sendiri. Tidak semua orang tua memperbolehkannya. Jogja, London, Birmingham, Paris, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Hiroshima, Osaka, Bandung, Surabaya dan Jakarta merupakan rekam jejak tempat perantauan terlama saya. Kota-kota tersebut tidak mungkin saya taklukan jika tanpa adanya bekal values kehidupan yang Ayah dan Ibuk serta Kakak tanamkan sedari kecil.

Itulah mengapa saya menjatuhkan pilihan “Find Your Wings” sebagai nama blog ini. Terinspirasi video Mark Harris yang menceritakan beberapa setting Ayah/ Ibuk yang memberikan bekal bagi anak-anak mereka dalam berproses kehidupan. Blog ini hadir dengan sengaja digarap lebih serius sebagai legacy bagi keponakan dan anak-anak saya nantinya. “Semoga kalian dapat dengan bijak membaca dan memahami pertumbuhan apa yang tertulis yaa, Bil (ponakan saya) dan sepupu-sepupunya (salah satu pasti adalah anak Ibu nantinya)”

Exactly! Seorang anak tidak dapat ‘terbang’ tanpa bekal dari orang tua. Beliau semua hanya membekali dengan apa yang mereka bisa upayakan, pembentukan kekuatan ‘terbang’lah yang anak itu sendiri tentukan.

Kini, saya memahami apa yang kakak saya ucapkan saat saya nakal “karena kamu belum pernah merasakan bagaimana membesarkan anak…” -kalimat terdalam yang menandakan satu hari dimana kepayahan saya (tidak berkenan kembali menjadi akademisi) dalam membahagiakan Ayah Ibuk. Itulah seorang anak, pasti pernah melakukan payah, namun akan lebih baik memfokuskan pada bagaimana menghebatkan orang tua kita. Iyes! Bahagia dan bersyukur menjadi anak dari Ibuk dan Ayah. Semoga masih sempat segera membahagiakan beliau semua. Yuk, persiapkan dan pantaskan diri 🙂

-Ratih, Kemang, Mei, 2014

Ayah, Adek, Ibuk

Ayah-Adek-Ibuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s