Ibu

So si Bil, hiduplah teratur dan rajin seperti eyangTi…

Ibu, pendidik sejati. Teladan bagi kami sekeluarga, para mahasiswanya.

Ibu berupaya sekuat tenaga bertanggung jawab agar kami tumbuh berkecukupan dan memastikan bekal untuk sukses di masa depan.

Ayah adalah teman terbaik yang Ibuk miliki. Keduanya tidak selesai tumbuh dewasa bersama dan saling melengkapi hingga eyang-eyang saat ini.

Hidup hemat dan sederhana adalah pilihan lifestyle-nya dan beliau didikan pada kami.

Jam weker merupakan hal yang sangat identik dengan Ibu saya. Tepat pukul 04:00 pagi, beliau bangun pagi, bisa jadi lebih awal. Saat Ibu bangun, itulah arti kehidupan di rumah Wologito dimulai. Teringat saat jam tangan saya hilang, beliau meminjamkan arloji kesayangannya untuk saya pakai agar tahu waktu saat ujian berlangsung. Sehari tanpa arloji, mungkin baginya butuh adaptasi.

Image

Bersama Ibu, Kelulusan UGM, 2008

Bekal makanan menurutnya menjadi hal wajib yang harus beliau siapkan dan wajib dibawa oleh anak-anaknya dan mereka yang berkunjung ke rumah (jika beruntung ada beliau). Hiks, sudah disiapkan tinggal membawa tapi ko saya dan kakak ipar sering mengurangi jatah kami karena malas berat dan riweuh. Kebiasaan saya dan kakak saat di Jogja, saling langsung mengunjungi kost “Ini ada bekal dari Ibuk untukmu, diambil atau diantar…”. 

Prestasi dan rajin menjadi penilaian utamanya dalam fokus pada suatu hal. Hidup harus punya tujuan.

Sprei bersih dan handuk bersih telah tersedia di kamar nyaman mungkin rasa hatinya senyaman menyambut anak-anaknya pulang ke rumah Wologito selepas merantau.

(Terlalu) baik pada mahasiswa menjadi sifat Ibu saya. OMG! sejuta usaha akan beliau ikut upayakan membimbing para mahasiswa bimbingannya. Bahkan line telpon dan pintu rumah pun terbuka untuk mereka. Ini menjadi luar biasa karena culture HI-UGM tidak seluwes tsb.

Jus buah dan sayur menjadi menu utama beliau. Dan hobinya membagi hasil panen buah untuk orang sekampung.

Bunga dan taman adalah hobi yang menyenangkan untuknya. Rumah Wologito nan asri karena tangan beliau.

Wajah sedih saat kami tidak makan dengan antusias, merindukan kehadiran kami dan orang lain kesusahan. Dan saat kami tidak patuh karena beliau telah berupaya menjadi working-mom. 

Ya Allah Maha Pengasih, senantiasa lindungi beliau. Bahagiakan dan tentramkan hatinya. 

It is not easy being a Mom/ Dad. It is not easy being a wife/ husband. It is not easy being working parent. But she always reminds and supports us on this, just because she wants her children have partner life who taking care for each other in life and being a great parent who can work-life balance for family. She suffers from DM since 2002, it has been changed our family. Mom have to diet and concern with her condition. She is very lucky person having my father who can accompany her everytime (everywhere). She will teach until 65 yo, may Allah bless you, Mom. hehehe Thank You, Ibuk. Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s