Ayah

Image

Bersama Ayah, di gang Wologito, Juli 2012

Ndak papa, ayo berangkatlah dengan tenang. Ini amanah. Harus dijalankan -Pesan Ayah, 2011

Pesan tersebut Ayah sampaikan saat melepas kepergian saya berangkat ke Jepang untuk beasiswa pertama saya. Ibu tidak berkenan berangkat, beliau memilih mengantar hingga teras rumah kami dengan duduk sedih. Itu merupakan kali pertama saya meninggalkan Tanah Air dalam waktu cukup lama (bagi Ibu) ditambah Ramadhan dan Idul Fitri 2011 tidak merayakan bersama mereka. Meski sebelumnya, saat melepas saya berangkat ke London, 2010 Ibu dengan semangat. Secara waktu memang lebih singkat, namun itu pertama kali saya merantau jauh dari Tanah Air, ada Ibu yang menghilangkan ketakutan saya pada keberangkatan 2010. Itulah Ayah dan Ibu saling melengkapi.

Kembali pada Ayah, kata orang kebanyakan, saya anak Ayah; saya duplikat Ayah; tante itu mirip Ayah, Bil (jelas kakak Ipar pada ponakan). Entah apapun itu, saya bahagia memiliki dua puluh tujuh tahun bersama Ayah hingga hari ini. Banyak waktu yang kami lewatkan bersama. Chemistry itu sungguh luar biasa. 

Saya akui karakter diri saya dominan menurun dari Ayah. Kebiasaan kami pun mirip.

Bagi saya, Ayah adalah teman hidup yang luar biasa. Ayah tidak pernah berkata kasar pada saya, apapun itu beliau sampaikan dengan halus dan penuh rasa sayang. Saya bagi Ayah (mungkin) adalah navigator handal dalam menemaninya berkendaraan. Kami banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan bercerita apa saja, guyon dan sudah pasti curhat.

Ayah adalah seksi transportasi dalam keluarga kami. “Dek, di jemput jam berapa…adek, kondangan jam berapa?” merupakan pesan ternyaman saat pulang sekolah, pulang selepas merantau, bahkan kondangan pun bersama Ayah. hehehe

Hingga saat ini, pasti akan ada rebutan untuk dipijit oleh Ayah: Kakak, saya dan si Bil. OMG! ini anak-anak sudah besar-besar bukannya mijitin Ayahnya namun sebaliknya. Justru, pijitan Ayah luar biasa untuk mengobati titik kenormalan badan kami. Ayah menularkan ilmu tsb pada saya, sayang belum telaten seperti beliau. heheh

Ayah itu sangat legowo dan penyabar. Saking legowo dan penyabarnya saya pun jadi sering protes. Beliau sangat ber-positive thinking dalam hidup dalam keadaan apapun dan kepada siapa pun. Termasuk saat antriannya disebrot orang. Sepele, tapi kalau itu saya sudah saya tegur (ups, ini baru Ibu banget).

Ayah berwajah ceria saat anaknya bahagia dan sukses menyelesaikan tugasnya. Ayah penerima rapor kami berdua. Baik buruknya nilai dan ranking kami, Ayahlah yang tahu. Jadi, Ayah lebih hits dikenal oleh teman-teman semenjak SD hingga SMA. Ibu banyak tidak dapat ijin mengambil rapor karena kampus tempat ibu bertugas sangat jauh di pinggir kota Semarang. Kalo Ayah mah tinggal jalan kaki ke SMA 1. ehehehe Saat kakak wisuda, Mei 2006, Ayah dan Ibuk bangga karena kakak lulusan dengan waktu tersingkat. Kembali ke GSP untuk wisuda saya 2008, katanya beliau bangga karena 2005 cuma saya dan Tika yang wisuda bersama kakak-kakak. Wisuda S2 saya, lumayan membuat lega mengingat jatuh bangun thesis saya luar biasa butuh kesabaran. Terakhir beliau bilang bangga saat pengumuman Otoritas Jasa Keuangan dan promosi Kakak di kantor. Sungguh rejeki kami, ini semua rejekinya Ayah dan Ibu.

Ayah itu sosok yang loyal. Beliau akan melakukan hal terbaik pada keluarganya dan lingkungannya. Beliau peduli untuk rela berkunjung rutin sodara kami yang opname baik melahirkan dll.

Ayah sangat hormat pada orang tua. Beliau memberikan contoh terbaik bagaimana menghormati sosok orang tua, terutama Ibu. Beliau memberikan contoh nyata bagaimana menyayangi dan menghormati orang tua hingga akhir hayat itu tiba. Ayah senantiasa tegar menghadapi masa kehilangan orang tuanya. Menurutnya, itu sudah takdir. Banyak hal lebih prihatin yang ia lalui sebagai anak tunggal. Topik mengenai sejarah Indonesia, wayang Jawa, keluarganya dan masa kecilnya menjadi andalan saat kembali menikmati desa Cawas, Klaten. Dan sebagai partner perjalanan yang baik, saya membebaskan pikiran dan memori Ayah mengulang kenangan tsb. Dari Ayah, saya belajar bagaimana menjadi teman perjalanan yang menyenangkan dan dapat diandalkan. “sudah jangan menangis, saya gandeng erat tangan Ayah sembari jenazah simbah putri berangkat dikuburkan…” itu hari terakhir saya melihat Ayah melihat Ibunya untuk terakhir kali, 2013. Tahun pertama kali kami tidak merayakan Idul Fitri bersama simbah. Dan saya lega dapat mendampingi beliau pada situasi kurang baik tsb.

Ayah tidak senang saat kita tidak berkomitmen dengan baik. Inilah kesamaan Ayah dan Ibuk. Beliau berdua sangat fokus melihat bagaimana setiap orang melakukan komitmennya dengan baik. Saat ingin punya tujuan A, persiapkan dan lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Singkatnya, waktu itu berarti sangat penting.

Ayah tidak senang korupsi. Teringat bagaimana Ayah meniti karirnya dari nol – masa jaya – pensiun. Saat saya duduk dibangku SD – SMA itulah masa dimana Ayah sedang berada dititik baik karirnya di kantor. Tidak heran bagi kami karena beliau punya integritas, kompeten dan jujur. Pesan nilai kejujuran merupakan pesannya yang utama. Alhamdulillah disaat teman-temannya masuk dalam bui karena korupsi, Ayah selamat. Belakangan saya tahu bahwa tidak mudah berada dalam kondisi lingkungan buruk namun harus tetap jujur. Beliau bercerita, “dulu saat njabat, pilihan Ayah hanya dua, dek: hidup panjang umur tapi tidak njabat atau njabat tapi tidak panjang umur. Saat itu Ayah bermimpi ditembak orang” –ceritanya dalam suatu hari perjalanan ke desa. Alhamdulillah, ayah tetap istiqomah.

Ayah sangat menghargai persahabatan. Saya dan Ibu tidak jarang ikut Ayah reuni dan berkunjung ke rumah om abc untuk memberikan waktu bagi Ayah bertemu sahabat-sahabatnya. Beliau pun ingin silaturahmi itu tidak diputus “Biar Ayahmu refresh dan senang…” jelas Ibu untuk memberi ruang

Ayah itu cinta pada tanaman. Inilah persamaan kedua dengan Ibuk. Ayah cenderung senang menanam pepohonan dan buah-buahan. “Aku loh dapat kiriman Lengkeng maniiis sekali dari Ayahmu tadi…Pakdhe biasa seneng open-open(merawat)” seorang sahabat, Isti Maya, menyampaikan pesannya dikala pesta panen Wologito namun saya sedang merantau. Selain lahan sekitar rumah kami, Ayah loyal cinta pada pohon hingga harus menempuh perjalanan di pinggir Semarang untuk merawat pohon-pohonnya. Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh kami pasca Ayah pensiun. “Eyangkung ko jadi belang tangan dan wajahnya sih beda dengan badanya yaa..nanti kan dikira eyangkungku hitam” -si Bil said. HAHAHA

Ayah senantiasa rajin berpuasa dan sholat di malam hari. Baginya, malam dikala semua orang terlelap, justru itu waktu utama. Kebiasaan ini sangat patut dan layak dicontoh. Untuk puasa, kakak lebih telaten dibanding saya. Teringat kakak puasa nazar yang cukup lama saat ketrima UGM. “mas Rachman dari kuliah memang sudah senang hidup prihatin… nular ke anak-anaknya… semoga jadi orang kayak Bapaknya..” -komentar entah pakdhe siapa saat kami di desa. Seperti biasa, dengan humble Ayah menimpali, “sudah sewajarnya orang hidup harus demikian…” . 

Ayah itu njawani tur mriyayeni. Ayah itu sangat tipe orang Jawa sekali dan berusaha meng-orang-kan orang lain agar seperti priyayi (mengingat kami bukan orang keraton dan berada).

Ayah itu paling bisa menjaga perasaan orang lain. Selain tutur kata yang lembut dan kalem. Ayah akan menyenangkan hati orang lain. Ayah akan mengirim sms pada kami, just reminder: “dek, ndak lupa sms Ibumu/ kakakmu ulang tahun. Kamu adalah salah satu alasan Ibu tetap semangat dalam hidup”. Dan Ayah akan sedih dan marah dengan diam saat anak-anaknya membuat sedih Ibu. Sayalah mungkin yang paling banyak membuat kepayahan daripada kakak.

Ayah dan Saya senang membaca buku, mengikuti berita dan berdiskusi. Sebenarnya satu rumah sama sih. Hanya saja waktu diskusi bersama Ayah lebih banyak dibanding lainnya.

 Matur sembah suwun Ayah untuk semua waktu dan kasih sayangnya bersama kami.  

Dek, sungkem kagem Bapak -Mbak Rina, sepupu, 2006

si Bil, kamu sudah melewatkan waktu bersama Eyangkung paling tidak lima tahun ini. Ada yang unik, saat ada EyangKung kamu akan memilih apa-apa Eyangkung. Pokoknya Bunda, tante, Ayah dan Eyangti banyak ga laku deh. Si Bil, EyangKung sudah merasakan kehadiranmu saat Bundamu akan melahirkanmu lebih awal. EyangKung meminta EyangTi untuk segera cuti dan berangkat ke Bintaro bersamanya. Tante saja heran ko lebih cepat datang. Dan benar, kamu lahir lebih awal, Bil pada 18 Juni 2009.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s