Visi Hidup

Ceritanya, sangat menikmati pesta demokrasi 2014 melalui visi misi capres cawapres. Ups, terasa ingin mewarisi apa yang menjad visi hidup.

Visi life: tentang keramaian. tentang penantian. tentang kamu. tentang pendidikan. tentang anak-anak. tentang negeri ini. tentang Islam dan multikultur. (Semakin mengerucut prioritas).

Misi: tercatat dalam agenda weekly. Hihihihi

Advertisements

Prof. Arief Rachman: Religion is the total surrender to God Almighty

 

Image

Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd

Sebagai manusia biasa, adakalanya menjalani ups and downs roda kehidupan sekalipun kita biasa membawakan setiap ‘role‘ dalam suasana menyenangkan. Berikut rangkuman pesan dari Prof. Arief Rachman, dalam nasehat pernikahan Ibas-Alya Rahajasa tahun 2011 silam, yang senantiasa menjadi rujukan penenang bagi saya:

The first pilar in life is our commitment to life. In the name of God Almigthy and God will give you love. Love/Cinta is the power of being human being and being hamba Allah, The Abdullah. Tiang yang pertama yaitu ikatlah diri kita kepada Allah. Ingatlah selalu kepada Allah.

The second pilar that God has created to all maintain is being patient and God has I could there is no stronger person. But those who are patient. There is no powerfull person unless he is patient. Pujangga islam mengatakan, “Tidak ada yang lebih kuat dari orang yang sabar. Tidak ada orang yang berkuasa daripada orang yang sabar”. Sabar bukan berarti mengalah. Sabar berarti teliti, tekun, tanggap, dan trengginas.

Yang terakhir yang ketiga adalah akhlak. Akhlak ini adalah sesuatu yang harus kita miliki danharus kita tempa. Akhlak ini yang paling penting kata Allah adalah tunduk dan runduk kepada Allah. Hendaklah kita berakhlak mulia. Ada orang bertanya sebenarnya apakah agama itu? Agama adalah tunduk dan runduk kepada Allah.

 **Prof. Arief Rachman, seorang pendidik dan guru besar di Indonesia. Thank you for 19 years as my idol! TRATA.

Tes Masuk PCS OJK: P Muliaman D Hadad & PCS

img1402055969513

Moderator Diskusi bersama Bp Muliaman D Hadad

Senang dapat proactive meramaikan kegiatan PCS diskusi bersama Pak Muliaman D Hadad, 6 Juni 2014 sebagai moderator ber-partner dengan Irwan, Kelas E. Didaulat sebagai moderator mengingatkan saya pada masa-masa menyenangkan di Jogja: moderator, peneliti, staf komunikasi, dan dealing person. Eniwei, diskusi dengan P Muliaman mengalir dengan berbagai topik menarik, antara lain:

Pertama, penempatan pertama beliau di Mataram saat PCPM Bank Indonesia. Beliau banyak bercerita bagaimana kita dapat menyikapi keputusan dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita meski terlihat berat. Pesannya, terimalah dengan ikhlas dengan demikian dapat mengerjakan dengan sebaik-baiknya apa yang seharusnya dikerjakan. Kedua, Motivasi untuk membaca buku. Ketiga, Perbankan syariah di Indonesia. Keempat, work life balance sesuai hobi masing-masing. Kelima, masa depan OJK. Topik ini sangat menarik, beliau menjelaskan secara mengalir bagaimana OJK harus kokoh dari internal untuk memberikan services terbaik kepada industri dan masyarakat Indonesia melalui kegiatan dan fungsi OJK. Berbagai kerjasama, perbaikan internal, berbagai program pengembangan SDM dilaksanakan untuk mencapai target masa trasisi tsb. Belum lagi ditambah dengan eskpektasi industries terhadap kinerja OJK terkait pungutan. Almost two hours bersama cerita-cerita inspirasi beliau.

Lesson learned: Ada yang berbeda dalam menjadi moderator kali ini, penting untuk menggali lebih dalam sosok calon pembicara sebelum di atas panggung. Saya terlupa bahwa beliau memiliki karakter pencerita yang menyenangkan. Dengan demikian, tidak memungkinkan untuk tek tok takan dengan cepat. Senang dapat membantu beliau dalam ‘membisiki kata’ saat lupa kosakata yang tepat. Hihihi kapan lagi membisiki RI 1 OJK 2014. Let it flow.

Terima kasih saya ucapkan kepada tim DPSM: Pak Toto, Pak Horas, Pak Rifqi, Ibu Miranti, dan Irwan dalam mempercayakan diskusi ini meski sangat jauh dari kesempurnaan.

Samapta: LogFrame Budget and Program

Terbiasa untuk bertanggung jawab atas sebuah program, membuat saya ketat terhadap budgeting, gawang penjagaan budget, implementasi dan monitoring & evaluation sebuah program. Sebagai seorang program officer terlebih untuk level national manager program sudah pasti akan dituntut oleh penyumbang dana bertanggung jawab pada dana mereka. It is not easy for our team mengelola program. 

Tulisan ini akan mengantarkan pada evaluasi pada suatu program dalam pendidikan calon staf saya yang diadakan oleh kantor, sudah pasti tujuannya untuk merekam jejak masa lalu agar dapat digunakan dimasa depan.

Samapta. Kegiatan selama sembilan hari yang ‘harus’ dilaksanakan oleh tim pengembangan SDM dalam proses pendidikan stafnya, terlebih bagi pegawai lembaga negara. Bila saya memandang dalam kacamata lama sebagai staf swasta dan non lembaga negara, pasti akan merasa ini kurang worth it karena tidak profit oriented terkait core business, akan lebih baik menginvestasikan training sesuai kebutuhan. Namun bagi pengembangan SDM di lembaga negara, kegiatan ini merupakan hal fundamental dalam meletakan dasar pengetahuan tentang Indonesia as a state dan sudah pasti menjadi ‘advantage dalam menjalankan core business‘. 

Well, mengapa perlu diadakan oleh vendor berbasis militer? bisa jadi karena tingkat kedisiplinan, ketahanan fisik, mental, teknik siap siaga dalam problem solving mereka sudah teruji serta mampu menampung & menghandle massa dalam jumlah super banyak.

Berikut beberapa tips dan lesson learned dari program kegiatan Semapta tempo waktu:

1. Mindset. Tips, pastikan mindset kita dalam mengikuti kegiatan ini adalah vendor telah dipercaya oleh kantor dalam melaksanakan kegiatan tsb dan telah mampu menerjemahkan Term Of Reference (TOR) dari principal dalam sebuah program untuk peserta. Mindset ini selalu saya pegang disaat kondisi diluar dugaan. It was happen. Dan mindset ini menyelamatkan saya untuk bersabar dalam mengikuti program hingga selesai (meskipun sepakat waktu terasa sangat lama).

2. Finansial. Lesson learned, dalam men-delevop suatu program, sudah pasti finansial menjadi hal utama yang dibutuhkan. Tidak jarang ditemukan bahwa third party terkesan ‘nakal memproyek’ kegiatan yang dipercayakan padanya, apapun itu entah pengurangan-pengurangan baik program maupun kualitas produk yang tidak sesuai presentasi di awal. It was happen sepanjang saya berperan sebagai principal sangat harus mengawal sebuah IMPLEMENTASI program disesuaikan BUDGET yang ada dan telah disepakati/ bayarkan karena sebagai principal tidak serta merta kita dapat menyerahkan sepenuhnya kepada vendor, terdapat fungsi MONITORING & Evaluation. Tips, assessment awal pada vendor merupakan hal yang patut dilakukan. Dalam konteks kegiatan Semapta perlu dilakukan: a. Kesesuaian Kurikulum request dari Principal. Hal ini mengingat peserta nantinya akan dalam suatu kegiatan berkonteks pendidikan. b. tes foods (prinsip saya, makanan menjadi hal utama sebagai pemenuhan gizi, energi, dan juga selera menikmati hari-hari–beyond the Food) sempat disaat sharing session, ada nada nyinyir mengenai menu. Faktanya, saya melihat mereka pun mengeluh dalam makan siang mereka. It seems like two face of sen coin. Karena saya termasuk yang concern pada asupan gizi dan energi sebagai modal utama manusia beraktivitas: bukan karbohidrat yang paling banyak, namun bagaimana dalam satu penyajian makanan terpenuhi gizi seimbang yang sudah pasti diimbangi oleh cara memasak & penyajian yang baik dan benar. even it is a military system, we have to concern with hygiene, ex. SMA Taruna Nusantara did the great things. Prinsipnya pola hidup sehat sudah seharusnya tersirat dalam pendidikan Semapta tsb. Sebagai principal yang telah berinvestasi dalam jumlah tidak sedikit sudah seharusnya mendapatkan hygiene atas penyajian makanan (no rats, no cats, no dogs surroundings the kitchen). c. tes akomodasi yes exactly that the event seems like military education system, but we have to re-thinking: how much rupiahs which already company was spent to it, wasn’t? d. apakah peserta akan costly lagi atau tinggal fokus mengikuti acara? Costly disini maksudnya, apakah peserta akan spend more energy untuk mengikuti kegiatan. Dalam tim, biasanya supervisor saya selalu memantau secara details persiapan dan sejauh mana kegiatan on track, “tolong kalian persiapkan dan pantau baik-baik, jangan sampai benef tombok (mengeluarkan uang untuk program kita atau kesusahan tidak nyaman selama program)”. It was happen dalam Semapta, suddenly we had to spend our money for bottles of mineral waters and every finished the session they suggested us went to canteen with highly mark up price. I remember when Sari Roti Rombong stocked to the canteen, we bought from him with low price, then the canteen rejected all his breads due to he sold to us with low price. WTH. Eniwei, After we advised the HRD when they was visiting us, we got the bottle of minerals waters. As rationale people, me and several friends aware about it. Tips please bring your cash money, in case the committee need your funding support. It was happen when they suggested to us for held ‘Gambing Guling Party, 60.000 rupiahs/ person’. We rejected. 

Merasa yakin bahwa finansial APBN turut terpakai dalam kegiatan ini, sudah seharusnya ada kritik yang membangun dalam setiap program dan kinerja dalam organisasi ini lakukan. Tujuan sudah pasti kedepan lebih baik.

Image3. Sebar informan 

Dalam dunia development, sudah pasti berurusan dengan people oriented. It means, masalah apapun di lapangan sedetail apapun, terkesan sepele apapun sangat berarti bagi reporting tanggung jawab kepada pemilik dana. Saya ingat betul bagaimana saya harus belajar melaporkan hal yang saya anggap sepele di lapangan namun itu perlu sangat ditulis. Mengapa? karena ini bukan hitungan kuantitatif semata, sukses atau tidaknya suatu program berdasarka people oriented pun terdapat penilaian kualitatif didalamnya. Penilaian-penilaian itulah yang perlu dikroscek dan seimbangkan.

We can differentiate between our rights or not, our objective already balance or not with the implementation, our result in the end of the program already made sense or not with our outcomes. So, it called ‘Logical Frame Work of Program (LogFrame)’- please, browsing: log frame approach.

 

Image

Log Frame USAID Framework, 2012

When developing a LogFrame, the project design team most often starts from the top and works down. Beginning with the Goal usually defined by the identified DO from the Mission strategy (CDCS), the team will then select the Intermediate Result (IR) that is the starting point for the Purpose of the project. There is flexibility to set the Purpose and Goal at higher or lower levels of the RF (for example, setting the Goal at an IR, and the Purpose at a Sub-IR.

1. The team will conduct a problem analysis (e.g. Fishbone Analysis or a Problem Tree) in order to focus the Purpose statement.

2. From that process the team will identify and select the full set of Outputs, or lower level results, that must be both necessary and when taken together sufficient to achieve the Purpose, given the assumptions.

3. Note that in large or complex projects it is likely that an additional level of “Sub-Purposes” will be necessary, when the causal “leap” from Outputs to Purpose may be too great.

4. At the lowest level of the LogFrame matrix are Inputs. These are the activities as well as resources invested in the project, for example funds, equipment, training, etc. to achieve the Outputs.

5. Throughout this process the LogFrame is informed by mandatory Gender, Environmental and Sustainability analyses as well as any supplemental analytical work that the Mission deems necessary.

6. The hierarchy between levels can be tested by asking the questions “how” when moving down the causal chain, “why or “so what” when moving up the causal chain, and “what else” at each level, verifying that the necessary and sufficient results are identified at each level. Working from the top-level result to the bottom ensures that the project design is consistent with the Mission strategy. Working from the bottom up, including assumptions, verifies the logic and increases likelihood of success.

Source: Log Frame USAID Framework, NUMBER 2 VERSION 1.0, DEC 2012

 Credit to: my supervisor Mrs. Diana S, all team ‘our funding’ Java Reconstruction Fund: World Bank team, UN-ECHO, EU, GIZ, IOM, USAID friends, for special lesson about Development. See you, guys and please enjoy your passion. 

 

We are United

We are United

Something New on this blog. Well, I just finished my classical and on the job training, so it is good time back to focus on my passion IR-Economics through reading, re-active attending e-learning at Columbia University (Prof. Sachs), writing and sharing knowledge. I would like to write it for you, readers. TRATA!

No Place Like Home

 

 

ImageRumah yang selalu dilewati, entah milik siapa

Huft. sudah tiga minggu memulai pencarian kost di Jakarta Pusat. Nihil. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kost saat ini, terkadang terasa lelah. Namun intuisi saya menyarankan mulai mencari tempat tinggal baru yang lebih dekat dengan kantor. Di satu suara lainnya, menahan untuk bersabar pada kost Kemang saat ini: mini dapur, laundry, khusus wanita, lingkungan baik sebenarnya lebih dari cukup. Saya dapat lebih bisa menabung untuk DP KPR kelak. Pencarian itupun dengan terpaksa, andai ada pilihan untuk tidak kost, enggan juga penuh fasilitas rumah kakak. Serba salah maunya apa. Maunya ingin punya ‘rumah’. 

‘Rumah’. Disanalah lelah hilang tergantikan oleh ketentraman jiwa dan pikiran. 

‘Rumah’. Disanalah tempat yang terbuka lebar bagi kerabat, teman, sahabat dan menampung adik-adik kelas mencari kerja. Tempat membangun silaturahmi dan rasa syukur. 

‘Rumah’. Ada suka, tawa, duka, kesal,.. semuanyaaa…. perjalanan ibadah mengisi hari-hari membangun memori pertumbuhan anggota keluarga.

‘Rumah’. Disanalah tempat keluarga memulai dan berakhir. 

Semoga saya segera punya rumah, Ya Allah. No place like home. 

Terima kasih kepada Ayah Ibu Kakak2 dan budhe yang menyediakan papan terbaik dan sederhana bagi saya.

Semoga bisa bergantian segera, yah.