BEYOND UNIVERSITY (Part II)

Picture 24Pengajar Sophia Summer Course, Tokyo, Japan, 2011

.Kembali ke Jogja. Keputusan diluar dugaan karena saya terlupa mendaftar ulang untuk HI – UI, tenggelam dalam brand campaign activity. Pembicaraan singkat pak Muhadi ditelpon langsung membuat saya ingin kembali ke Jogja. Iyes! beliau benar, saya mendapatkan banyak kesempatan untuk lebih fokus meriset dan membantu mengajar S1. Fase tersulit adalah saat saya tidak masuk dalam 3 besar rekrutmen dosen HI UGM. Masih teringat bagaimana Egita, Sipil 2005, menemani saya untuk kuliah. Hidup terasa hambar untuk saya yang biasa cukup periang, hingga saatnya saya menemukan jalan untuk bangkit membangun semangat keilmuan: memberanikan diri mendaftar sebagai staf UN common agency yang kebetulan ada di Jogja. Pilihan dari mereka pada saat itu adalah World Bank, IOM, GIZ. Saya memilih IOM karena saya masih harus menyambi kuliah. Dulu kuliah menjadi fokus utama saya, namun karena atmosfir diskusi dengan teman-teman kurang memuaskan pengetahuan saya -terlebih partner diskusi saya memutuskan berhenti kuliah dan bekerja untuk PPATK, Fathan Lutfi, saya sungguh perlu mencari oase pengetahuan baru selain di dunia kampus. Saya menemukan oase itu pada IOM dan kesempatan rajin mengirim essay untuk konfrensi. Pada akhirnya, saya sudah benar-benar meninggalkan teman-teman kampus dan saingan dengan dosen sebagai mahasiswa terbang dari satu konfrensi ke konfrensi lainnya. Beruntung UGM banyak memiliki dana bagi aktivitas mahasiswa. Credit to tim dekanat yang tidak bosan melihat saya mengajukan proposal dana keberangkatan. Sayang kan kalo uang alokasi tsb tidak digunakan. Iyes! Meskipun ditutup dengan chaos karena saya kecewa dengan jurusan saya, mengenai ketidaktegasan dalam proses thesis. Well, selepas pulang dari Nagoya, dosen pembimbing kedua saya banyak menghambat proses dengan hal-hal kurang penting dan dosen pembing pertama saya sudah memberikan approval untuk ujian namun bepergian dalam waktu lama tanpa sepengetahuan jurusan. Beruntung saya memiliki ketua jurusan yang bijak sehingga saya dapat segera ujian thesis via email (Oh mamen it was so funny-daripada tidak lulus) dan pendadaran thesis. Sejak wisuda saya belum lagi kembali ke jurusan, terakhir saya mendengar kini lebih rapi ‘peraturan dosen dan bimbingan’ semenjak protes keras saya. See. TRATA! Liburan di Karimunjawa yang terancam batal karena saya harus ditinggal Redha Kinanti -Arsitek ITB, 2005, karena saya harus mengurus satu tanda tangan dosen pembimbing. Huwala, harus menyusul sendiri ke Karimunjawa. Legowo, sungguh cerita terkhir bersama s2 HI UGM.

.Sophia University, Yotsuya, Tokyo, Japan.

Kehidupan kampus di musim panas dan Ramadhan sungguh menantang. Bersama Adiasri san dan Ekky san (Indonesia), teman-teman program JENESYS Japan Foundation Tokyo dari Asia Pasifik, saya menikmati proses pembelajaran yang menyenangkan. Prof. Debny dosen politik asal US dan Prof. John West dosen tamu Economic Development asal Australia. Saat libur, saya menghabiskan waktu mengunjungi Kyoto dan Hiroshima. Saya mendapatkan insight yang beragam dari teman-teman di Asia Pasifik. Setiap scholar memiliki ‘house fam’ di Jepang. Keluarga Satoko san mampu membuat kehidupan di luar kampus terasa menyenangkan dan penuh pengenalan budaya Jepang.

.Graduate School International Development (GSID), Nagoya University, Nagoya, Jepang.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk riset tentang Kerjasama Pembangunan Internasional dibawah supervisi Prof. Shimada. Beliau orang Jepang yang menikah dengan WNI Jogja. Di GSID saya bertemu dengan teman-teman di Asia Pasifik. Beasiswa JSPS memfasilitasi kami mengunjungi beberapa UKM di Nagoya. Perjalanan ditutup dengan TERTINGGALNYA DSLR dan PASPOR berikut sisa Yen di X-TRAY SOETTA. Huhuhu untung masih jodoh sebagai pemiliknya, di airport Jogja saya menanti kembali kepulangan tas DSLR. Garuda Indonesia, terima kasih.

Picture 18

ANDA Program – JSPS Scholar, Nagoya University, 2011

Dari perjalanan pendidikan dan kehidupan di perguruan tinggi yang telah saya tempuh, itu semua sangat berarti bagi personal development saya. Ups and Downs dalam menjalani aktivitas kampus disandingkan dengan kehidupan kantor sungguh membutuhkan manajemen waktu yang baik. Saya sangat belajar untuk itu meski ada hal yang diluar kampus yang gagal saya lalui. Well, dunia kerja memang berbeda dengan universitas, namun yang lebih penting bagaimana menikmati dunia kerja dengan tetap tidak haus pengetahuan, produktif menghasilkan paper/ karya, aktif dalam kegiatan kantor. Saya menjadikan pendidikan sebagai penguat pola pikir bukan hanya rutinitas sehari-hari. Dengan demikian, apapun case, pekerjaan, masalah yang diberikan kita akan dapat mampu menyelesaikan. Meskipun tidak jarang teori menjadi tools yang sangat berarti bagi saya dalam menyederhanakan masalah.

Hiduplah dengan tetap penuh excited as always. HAPPY. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s