Pagi dan Malam di sta. Tanah Abang

Hi Bil,

Sudah dua minggu tante mencoba untuk memakai jasa parkir motor di Sta. Tanah Abang. Keputusan ini dibuat untuk menghemat dan memudahkan saat pulang kantor. Di Soemitro sungguh agak penuh efforts untuk pulang ke arah tanah abang. Taksi mahal, ojek pun sekali jalan 25-30 ribu rupiah belum saat hujan datang, macetlah dan jual mahal para tukang ojek. Sippo untung Allah memberikan jalanNya. Ada lahan parkir di dekat stasiun Tanah Abang yang disewakan, meski agak jauh dan sebenarnya tante jadi telat absen 07.10 WIB tapi gpp lah sebentar lagi selesai pendidikan euy.

mtf_GxosN_1544.jpg

Lorong Godaan Sepanjang Menuju Sewa Parkir Motor di Sta. Tanah Abang

Tante sangat menikmati suasana baru ini, turun dari kereta, selaian disambut para ojek ternyata pedagang pakaian, tas, konveksi telah memulai pagi dengan secercah harapan. Pedagang makanan pun juga. Senang sekali melihat roda perekonomian hidup, semua orang nampak berusaha mencari rejeki dengan semangat apa yang bisa mereka lakukan.

Spirit setiap pagi “bersyukurlah dengan pekerjaan dan nikmat apa yang telah Allah berikan”. Mengutip pesan mbak Mita, kakak HI 2002, “banyak orang pun menginginkan posisi kita….”. Well, pedoman hidup muslim pun menyampaikan dalam surat Ar-Rahman. Jadi, nikmat mana yang engkau dustakan, Ratih?

“karena tidak selalu apa yang kita inginkan itu tercapai.” -Pak Triyono, Direktur said.

Stasiun Tanah Abang di malam hari

Keadaan Stasiun Tanah Abang di malam hari, baru tante ketahui dengan seksama saat tante telah memarkir motor di kampung tsb.

Yah, namanya juga, kebanyakan wong cilik dan kelas bawah yang tinggal disana. Jadi sangat jauh dari sanitasi yang baik, higenis, dan kerapihan. Dalam kehidupan sosial, dipinggir-pinggir jalan di stasiun Tanah Abang ada musik dangdut dan ibu2 bapak2 nampak berjoget. Benar-benar dipinggir jalan.

Dengan sekuat keyakinan tante menyusuri lorong gang yang saat dipagi hari penuh pedangang, namun malam sudah tutup. Ada pak petugas parkir telah menanti, dia hafal kapan tante pulang, dan apabila tidak pulang maka tante mengirim sms agar tidak ditunggu. Setelah parkir, tante berjalan kaki menyusuri lorong jalanan tadi. Langkah kaki secepat mungkin tapi ya kadang-kadang santai. Jantung terkadang diajak berdebar karena papasan dengan pemuda/ pemudi. Berdoa dan yakin mereka bukan preman atau copet. Hahahah situasi ini benar2 mirip saat tante bepergian sendiri di malam hari sepulang dari kampus di Yotsuya/ Nagoya Daigaku, bisa jadi sama halnya dengan saat nyasar sendirian di London Sentral untuk mencari masjid London. hohoho Jalan dengan langkah kaki cepat dan jantung berdebar serta dzikir. heheheh ALL is WELL laaaah.

Advertisements

7 thoughts on “Pagi dan Malam di sta. Tanah Abang

  1. mbak ratih,
    saya mau tanya, itu parkirnya di sebelah mana ya?
    saya nyari susah banget. kalo naik bis telat terus ke kantornya…

    Terima kasih ya…
    iqbal
    roker perantauan dari salatiga…

  2. mbak, kalau boleh saya juga minta informasi lokasi tempat parkir di tanah abang tadi, saya butuh buat nitip inap. buat diambil paginya (roker sudimara-tanah abang)
    Terima kasih sebelumnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s