Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih

Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih

Selamat pagi dari Jakarta!

Hari ini adalah ramadhan ke-13 di tahun 2015. Jakarta pagi ini sangat cerah, saya sangat menikmati perjalanan pagi hari ini dari Bintaro Jaya ke Kantor di Jakarta Pusat. Maklum ini hari kedua masuk kerja setelah ijin sakit karena tragedi jatuh di Stasiun Tanah Abang.

Sedih memang bila harus meratapi nasib kondisi fisik yang semakin terbatas dan juga keterbatasan akses dekat dengan keluarga inti. Jatuh bangun membangun pikiran-pikiran positif untuk terus tetap bangun pagi dan melanjutkan aktivitas.

Pagi ini saya memesan taksi 15-20 menit sebelum keberangkatan. Belum mandi dan masih maju mundur apakah akan masuk kantor atau tidak. Ponsel saya telah menuju pada nama atasan saya dan siap mengirim pesan untuk ijin tidak masuk. Saya seperti kelelahan menjalani tantangan hidup ini sendirian. Namun bisikkan hati saya mulai berubah saat memandang foto ponakan satu-satunya di kulkas, pikiran saya teringat bagaimana si balita harus berjuang melawan kantuk di pagi hari agar tetap masuk sekolah. Ia pun belajar untuk bertanggung jawab. “Haruskah saya rela untuk melepas tanggung jawab ini?” segeralah ponsel menelpon armada taksi.

Sopir taksi pun bekerja dengan profesional, ia tahu bagaimana memperlakukan pelanggan dengan sabar, membantu memilihkan jalan terbaik dan memberikan slot kursi lebih luas untuk kaki ini. Perjalanan pagi ini nyaman. Argo taksi, yasudahlah. Kenyamanan di kantor, ya alhamdulillah. Semangat pagi ini “Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih” -Ibu Ratih Catering said.

Membangun dunia sendiri tanpa orang lain memang sudah biasa. Kondisi ini akan membuat kita fokus menyelesaikan pekerjaan2 yang bisa kita kerjakan. Mengurangi singgungan-singgungan potensi konflik adalah cara terbaik, biarkan mereka yang memanggil saya untuk melakukan kerjaan-kerjaan itu. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan dengan terbaik, perih ya memang tapi apa yang bisa kita lakukan kalau toh memang saat ini Allah memberikan jalan demikian.

Ini hari kedua saya sedih karena tidak dapat berjuang di krl, bertatap langsung dengan kerasnya Jakarta. Saya sedang memilih untuk pilihan yang aman dan nyaman. Saya belum tangguh seperti biasanya, namun ini pun ditertawakan oleh kakak sepupu saya bahwa apa yang sedang dialami saat ini belum apa-apa bila sudah menikah, punya anak, pembantu gak balik. Seperti iya benar, untuk menjadi manusia dewasa dan tangguh tidaklah mudah. Belum lagi bila kita cenderung introvert dan percaya pada beberapa orang saja. Butuh kesabaran untuk memaknai dan menjalani cerita hidup pilihan Allah. “Mengapa bisa kerja disini, mengapa kakak-kakak hijrah, mengapa masih harus mendengar cibiran orang”. belajar untuk tetap fokus pada tujuan hidup kita, adalah solusi terbaik.

Namun bagaimana bila iman kita naik turun? mencoba untuk berpikir positive dan menjalani ajalah opo anane, sing ana yo dilakoni menjadi dinamika tersendiri.

Masih tetap terus merajut pikiran positive dan positive bersama teman-teman yang memang tulus membangun.

tetap tenang ya si Bil bila ada tantangan dan krisis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s