Bersyukur Pernah Sekolah

Screen Shot 2017-10-12 at 7.29.37 PM

. Bersyukur pernah sekolah 

Hidup cukup, asal anak-anak menempuh pendidikan terbaik.
Caranya mengenalkan sekolah, setahun sebelumnya diajak melihat beberapa sekolah untuk jadi pilihan dan memotivasi.

V Kunjungi SD Anjasmoro, SD Istriati: pilih SD Anjasmoro (karena ada kakak)

V Kunjungi SMP 1, SMP 2, SMP 3, SMP Dominico Savio: pilih SMP 1 (karena ada Kakak)

V Kunjungi SMA 3, SMA 1, SMA 5: mau tidak mau harus di SMA 1 (dekat Kantor Ayah)

V Kunjungi UNDIP Semarang, UGM, UI, ITB: UGM bagus adem kampusnya deket Semarang, deket Simbah, banyak Les-les an, banyak beasiswa, Ayah dulu pingin kesini tapi Simbah tidak punya banyak uang (berhasil masuk dan ada Kakak)

V 2010: keduanya melambaikan tangan mengantar hingga kereta api berjalan ke Jakarta. Pertama kali menjejakan kaki ke Inggris tanpa Ayah, meski sebentar belajar kehidupan untuk referensi terbuka pikiran katanya Beliau.

V 2011: Koper besar diserahkannya saat mengantarkan di bandara A.Yani dan lanjut ke Jakarta-Tokyo. Ibu tidak turut serta, pilu hatinya. Pelukan Ayah yang menenangkan, Ramadhan Idul Fitri jauh darinya. Akhir tahun, Jogja-Nagoya tanpa keduanya.

V 2015: Kunjungi Oxford University, Manchester, Liverpool, LSE London bersamanya. Banyak ambil foto dan cerita penuh tekad.
Semoga kelak bisa belajar disini, untuk anaknya atau cucu-cucunya.

Hidup dekat ilmu, kerja dekat ilmu.

Pendidikan karakter pun diperlukan sepanjang usia.

Sekarang sudah gak ada #Ayah. Al fatehah

Advertisements

Raudah-Mu: Sebuah Titik Pertemuan

raudahMU

Raudhah, Masjid Nabawi, Mei 2016. Photo taken by Me

Banyak orang cerita bahwa masjid Nabawi lebih tenang untuk beribadah. Suasananya lebih syahdu untuk kita khusyuk berdoa. Deskripsi dari banyak orang terdekat itulah membantuku membangun imajinasi bahwa disanalah nantinya pertemuan rindu Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan terasa indah, rupanya BENAR. Alhamdulillah.

Kakak Sepupu pernah menyampaikan tips, gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk bermunajat di Raudah, Makam Nabi Muhammad SAW.  Benar adanya, hari pertama kami tiba di Madinah, muthawif menyampaikan bahwa jamaah harus pandai-pandai dalam menjaga waktu dan stamina untuk berdoa di Raudah.

Bagaimana tidak, Area Raudhah ditandai dengan karpet hijau. Membentang dari rumah Rasulullah SAW (yang kini menjadi makam beliau) hingga ke mimbar sangatlah penuh jamaah. Belum lagi harus berbagi wilayah dengan jamaah laki-laki.

Alhamdulillah, bersama Nadia, anak kos jaman di Jogja, kami berdua mampu menghapus rindu kami pada Rasul dan Allah. Aamiin. Alhamdulillah kesempatan punya sahabat baik juga.  Sahabat kala serumah di Jogja, semoga kelak kami serumah di Jannah Allah. Aamiin. 

Yogyakarta: Terima kasih Pulang Lagi!

Hi Bil,

Beberapa hari ini ada banyak kawan dari Jogja menyampaikan kabar yang macem-macem ceritanya. Ada Anak-anak kos an, pak Dosen Pembimbing skripsi, tante Dhila di Makassar, tante Ayu dsb Intinya, jiwa ini sudah mulai merindukan ‘suasana pulang’.

Di Jogja atau bersama teman-teman Jogja (kuliah, kantor lama, anak kos an), mata tante itu berbinar berdiskusi banyak hal dengan pikiran terbuka, rasanya hati ini tulus tanpa ada saling menyakiti dan topang kepentingan, energi selalu positif. Somehow gak selalu kita terima dalam pekerjaan. Energi untuk punya karya dan creative selalu ada (kayak semalam, beres ngopi dengan mas Hangga HI 2002).

Disitu terkadang tante berpikir atas atmosfir di cubicle ini. Re-thinking. 

Eniwei apakabar data di email atau laptop jaman kuliah ya? Di tahun akhir kuliah S1, menulis dengan terinspirasi lagu Yogyakarta.

Pulang ke kotamu/ Ada setangkup haru dalam rindu/ Masih seperti dulu/ Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna/ Terhanyut aku akan nostalgi/ Saat kita sering luangkan waktu/ Nikmati bersama/ Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti/ Ramai kaki lima/ Menjajakan sajian khas berselera/ Orang duduk bersila/ Musisi jalanan mulai beraksi/ Seiring laraku kehilanganmu/ Merintih sendiri/ Ditelan deru kotamu …
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali/ Namun kotamu hadirkan senyummu abadi/ Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi/ Bila hati mulai sepi tanpa terobati

 

 

 

Long Time No See!

Hi Bil, si anak manis.

Long time no see, right? Mohon maafkan.

Oke, my sweetheart dalam hidup kita perlu mengejar target, dan do you know what, tante sudah selesaikan impian dan target dalam hidup di usia 30 tahun ini, tidak disangka semesta mengamini dan Allah memudahkan urusan semua ini sebagai tanda syukur dan terima kasih bagi para kesayangan: orang tua, cellarage dan para sahabat kecil.

BTW. Long time no see, right?! sebentar lagi kita akan bertemu dan berkumpul lagi, inshallah. Tentunya sudah terbayang kita bercanda bersama plus Adek Willy, right? Ah. bedanya, mana kuat tante gendong kamu lagi, eits kita bisa gendong baby Willy.

Mau tahu rasanya menyambutmu? Berdebar semacam kita sedan bermain Hide and Seek! Oia Si tukang bangunan pun ikutan kebut cari mana yang belum rapi, apa yang kurang, almost perfect for you, baby!

Huft, hampir setahun ini kita memang sedang bermain Hide and Seek, I can not go anywhere dan membiarkan Poundsterling serta janji kembali padamu belum tertepati. I have not travel a lot this year, just only want to go home earlier and enjoy silent moment. Sometimes I can hear this universe wanna say “sorry for your loss”

Oke biarkan semesta bekerja kembali mempertemukan kita di Tanah Air. Soon!

liverpooolLiverpool, 2015 Photo taken by Ayah Bil