24 Oktober: Jam Dinding dan Nasihat

20181024_212630.jpg
-Jam Seiko dibeli bersama alm. Ayah saat saya Sekolah Dasar, di Pasar Johar, Semarang

.24 Oktober: Jam dinding puluhan tahun pun mati, waktu berputarnya pun usai.
.

.
.24 Oktober, Selamat hari lahir Alm. Ayah, layaknya tahun-tahun sebelumnya kami semua akan menjadikan hari spesial, dan sibuk menyiapkan makanan dan mencari hadiah terbaik untukmu. Dua tahun belakangan ini telah digantikan dengan kejutan untuk para orang lain. Spiritnya sama, mencari senyum dari orang lain dan lalu lupakan berlalu. Bukankah itu yang Engkau ajarkan. Ketulusan.

.Teringat kado terakhir ulang tahunmu, senang sekali “dibelikan baju Koko dari anak wedok” ekspresi pada Bulik di bangsal RS. Kariadi @_aarch
.
.Kita pun selalu berdiskusi,
24 Oktober dalam belasan tahun terakhir kita bicara tentang cita-cita, Perserikatan Bangsa-Bangsa/ United Nations (UN) pun berulang tahun.
Teringat ekspresi wajahmu mendengarkan keseruan bahan bacaan sekolah tentang UN dan selalu meng-amini untuk naik helikopter logo UN menuju duty station. Dua tahun lalu, nasehat yang tersirat untuk memupuk selalu spirit berkarir di UN dimanapun penempatan Departemen, pesannya anak Hubungan Internasional harus bisa beradaptasi sekalipun berada dibidang Perbankan. Pesannya, Perbankan atau sektor jasa keuangan pun butuh berhubungan internasional, kerjasama tidak lagi melulu pencairan dana bergulir dan koperasi ala karirnya, tidak lagi Hubungan Internasional hanya mengawang-awang perlu juga ada yang membumi. Dan lalu APPROVAL perjalanan dinas Korea Selatan kudapat dari Ayah. Pesannya berangkat, nama baik didapat berkat kerja kerasmu. Berangkat dan carikan gingseng.
.
.24 Oktober 2018 doaku: semoga doa-doa kami sampai padamu, meringankan timbanganmu, Ayah.
.
.
.Al Fatehah. .
At #erhapitukitchen

Advertisements

Our new destiny: After Dad Passed Away

Hi Bil,

Good afternoon everyone! Long time no see since I have to handle domestic routine: taking care my Mom on the weekend in outside Jakarta and back to Jakarta on Monday Morning, working, packing and moving from Bil’s home, etc

It is not easy, feel so tired yes, feel so happy also

Do you know, I just realised that sometimes people have not ready yet to change their routine/ habit. We need to adapt, reconcile with a new condition, and implement to our routine, we need to accept it as our new destiny, as a new life, as a new habit. Ought! it is a new normal era.

As I remember you Bil, you are an extra extrovert person, different with me. So, I believe that you can adapt changes and face it. Just let it your tears a second then, Keep moving forward.

Do you know Bil, your Grandpa loves you so much and Willy also.  How lucky you are that only you who could met him and played with him. In the hospital, October 2016, He asked me to print out your photo and hang it. I got it from your daddy. Every nurse and doctor asked who is this? Cucu -grandchild in London with me. Everyone gave a positive spirit to him. Again, how lucky you are, beloved grandchild.

 

Postcard: Let’s make a legacy

IMG_20151224_150421_AO_HDR

Writing a postcards for My Dad, Belitong, 2015

Hi Bil,

Did you remember that I sent you a postcard?

Did you remember  that you sent me a postcard from London in 2015?

Well I already shared to you about the postcards, how to write our greeting on postcard, how to choose unique design of the postcards and stamp.

For me and my father, a postcard is very meaningful. From postcard, we know that personal is very respect with us, she/he spare his/her time to write, think some words, pray for us to visit here, walk to post office and pay it.

If we are not the special one, she/he would not doing this.

From postcard, I found a secret theory: imagine the object!

Yes, I try to imagine that I would be in there someday.

So, please send our warm regards on postcard when we travel around the world. It would be make them happy! Just like me, sending the postcards for you and my daddy when I travel overseas/ domestic. Let’s make a legacy for our next generation!

Summer in UK 2015: Royal Observatory Greenwich

cutty 4

cutty sark2

Greeting from Jakarta!
I would like to write my summer trip in UK. Actually, It was my special Eid Fitr because all my nuclear family celebrated in London.
While our family time, I enjoyed my me time to visit Greenwich. From Hendon Central Sta take underground and DLR to Greenwich (London), Cutty Sark for Maritime Greenwich.

Cutty Sark

In there, I enjoyed Cutty Sark, National Maritime, The Queen’s House Art Gallery and Royal Observatory Greenwich. Thank God!

Royal Observatory Greenwich:
Discover the past, present and future wonders of astronomy at the centre of time. Take an amazing journey through the historic home of British astronomy, GMT and the Prime Meridian. Learn how great scientists first mapped the seas and the stars, stand astride two hemispheres on the Prime Meridian Line, see pioneering inventions and the UK’s largest refracting telescope, touch a 4.5 billion-year-old asteroid, and travel the Universe at London’s only planetarium.

Must see….

1. Meridian Line
Stand aside the world-famous Meridian Line, with one foot in each hemisphere, and take in dramatic views of London.

greenwich

2. Great Equatorial Telescope
Venture inside the huge dome to see the telescope that gave astronomers new views of the Universe over 100 years ago.

3. Planetarium
See the stars and visit distant worlds in live shows presented by expert astronomers, or spectacular cinematic shows based on the latest science.

cutty sark1

Source: Map Royal Museums Greenwich only 1 Poundsterling each

Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih

Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih

Selamat pagi dari Jakarta!

Hari ini adalah ramadhan ke-13 di tahun 2015. Jakarta pagi ini sangat cerah, saya sangat menikmati perjalanan pagi hari ini dari Bintaro Jaya ke Kantor di Jakarta Pusat. Maklum ini hari kedua masuk kerja setelah ijin sakit karena tragedi jatuh di Stasiun Tanah Abang.

Sedih memang bila harus meratapi nasib kondisi fisik yang semakin terbatas dan juga keterbatasan akses dekat dengan keluarga inti. Jatuh bangun membangun pikiran-pikiran positif untuk terus tetap bangun pagi dan melanjutkan aktivitas.

Pagi ini saya memesan taksi 15-20 menit sebelum keberangkatan. Belum mandi dan masih maju mundur apakah akan masuk kantor atau tidak. Ponsel saya telah menuju pada nama atasan saya dan siap mengirim pesan untuk ijin tidak masuk. Saya seperti kelelahan menjalani tantangan hidup ini sendirian. Namun bisikkan hati saya mulai berubah saat memandang foto ponakan satu-satunya di kulkas, pikiran saya teringat bagaimana si balita harus berjuang melawan kantuk di pagi hari agar tetap masuk sekolah. Ia pun belajar untuk bertanggung jawab. “Haruskah saya rela untuk melepas tanggung jawab ini?” segeralah ponsel menelpon armada taksi.

Sopir taksi pun bekerja dengan profesional, ia tahu bagaimana memperlakukan pelanggan dengan sabar, membantu memilihkan jalan terbaik dan memberikan slot kursi lebih luas untuk kaki ini. Perjalanan pagi ini nyaman. Argo taksi, yasudahlah. Kenyamanan di kantor, ya alhamdulillah. Semangat pagi ini “Good times Bad Times…itu rejeki buat kita Ratih” -Ibu Ratih Catering said.

Membangun dunia sendiri tanpa orang lain memang sudah biasa. Kondisi ini akan membuat kita fokus menyelesaikan pekerjaan2 yang bisa kita kerjakan. Mengurangi singgungan-singgungan potensi konflik adalah cara terbaik, biarkan mereka yang memanggil saya untuk melakukan kerjaan-kerjaan itu. Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan dengan terbaik, perih ya memang tapi apa yang bisa kita lakukan kalau toh memang saat ini Allah memberikan jalan demikian.

Ini hari kedua saya sedih karena tidak dapat berjuang di krl, bertatap langsung dengan kerasnya Jakarta. Saya sedang memilih untuk pilihan yang aman dan nyaman. Saya belum tangguh seperti biasanya, namun ini pun ditertawakan oleh kakak sepupu saya bahwa apa yang sedang dialami saat ini belum apa-apa bila sudah menikah, punya anak, pembantu gak balik. Seperti iya benar, untuk menjadi manusia dewasa dan tangguh tidaklah mudah. Belum lagi bila kita cenderung introvert dan percaya pada beberapa orang saja. Butuh kesabaran untuk memaknai dan menjalani cerita hidup pilihan Allah. “Mengapa bisa kerja disini, mengapa kakak-kakak hijrah, mengapa masih harus mendengar cibiran orang”. belajar untuk tetap fokus pada tujuan hidup kita, adalah solusi terbaik.

Namun bagaimana bila iman kita naik turun? mencoba untuk berpikir positive dan menjalani ajalah opo anane, sing ana yo dilakoni menjadi dinamika tersendiri.

Masih tetap terus merajut pikiran positive dan positive bersama teman-teman yang memang tulus membangun.

tetap tenang ya si Bil bila ada tantangan dan krisis.

Googling…. saving a money… dream come true!

Hi Bil,

Faktanya, apa yang terjadi hari ini adalah keberhasilan dalam mewujudkan impian. Sudah pasti itu semua membutuhkan waktu, usaha, kesabaran dan keteguhan fokus pada tujuan.

Well, ceritanya agar tante tidak boros. Start from May, 2015, akan mulai berpikir tentang rumah. Rumah mungil dengan design interior sesuai karakter penghuninya. Sudah bermimpi aja dulu, nanti kan otomatis universe menggerakkan pada datangnya rejeki, nabung lama-lama kejadian. hehehe Biarkan otak kita berani menyusun mind map agar membuahkan hasil di masa depan #otakkanan.

Picture 18
ruang para sahabat

Picture 15
ruang tamu

Picture 17

Picture 22
tempat selonjor, malas gerak

Picture 21

Picture 14
ruang kerja Mommy

Picture 25
suka meja dan susunan rak

Picture 24
semoga ada sisa tanah untuk ventilasi

Picture 26
toilet sudah pasti harus rapih

Picture 20
lazy day

Picture 12

Picture 8

Picture 16
kamar bocah

Picture 27
kPicture 23
kantong si bocah

Picture 19
menjamu sahabat

Picture 28

Berdoalah dengan sabar, karena dalam doa tetap ada suatu harapan kehidupan lebih baik.

#sharing
#giving
#thankful

*inspirasi mikir rumah: momentum lihat ruangan Buddy, p Deden, 2015.
**foto diambil dari internet, yang kelupaan save alamat websitenya. Credit to para designer interior ini.

Filosofi Motif Batik dan Hari Senin

kelas A_arif

Hi Bil,

Maafkan lama tidak menulis cerita untukmu, Anak Manis. Bulan Februari luar biasa me time, hehehe
Well, tante akan bercerita tentang motif batik, mengapa? karena ternyata sebagai orang jawa kita sudah seharusnya memahami budaya aseli. Pada tulisan sebelumnya tante telah bercerita bahwa tante bertemu seorang penggemar batik di Asosiasi Batik Sekar Jagad – Jawa Tengah. Pesan beliau, kita seharusnya memakai batik tulis dan memahami makna apa yang sedang kita pakai. Scara bok batik tulis tidaklah murah karena memang ada nilai karya sendiri.
Berbekal niat untuk menjalankan misi memakai batik/ kain nusantara, maka tante mulai sengaha memilih batik yang memiliki filosofi secara khusus. Mengingat keuangan belum sangat mampu maka terkadang tante mengkolaborasikan antara batik tulis dengan cap, asal bukan printing saja. Koleksi pertama tante kali ini: Wahyu Temurun yang menceritakan tentang filosofi wahyu/ anugrah yang sedang turun bagi mereka yang memakainya sehingga memberikan keberkahan bagi sekelilingnya. Mencintai batik ini menurun dari eyangkung dan eyangti rachman, beliau semua selalu menyampaikan “pilih batik sing mriyayeni” artinya memilih batik yang seperti priyayi (bukan harus mahal namun terlihat berkelas dan pantas memanusiakan sekelilingnya).

Baiklah semoga tante dapat menikmati hobi baru ini. Motif Batik Wahyu Temurun ini semoga dapat membawa energi positif untuk memulai hari Seniiiiiin 🙂

wahyu temurun

ini