Bermain Peran di Panggung

Semoga kebaikan ada disetiap pertunjukan demi pertunjukan kita. Isilah pertunjukan dengan nilai positif. Jadikan setiap pertunjukan sebagai legacy kita hingga akhirnya kita bertemu pertunjukan abadi: berakhir khusnul khotimah dan abadi di jannah Allah. 

Hi Bil,

Selamat Pagi dari kompleks gedung Filateli!

Teringat pekan lalu tante harus mencari stamp book titipan Ayah untukmu di sini. Disini tante menemukan sebuah coffee shop yang cukup nyaman dalam menghilangkan penat sejenak dari rutinitas kantor. Di belakang coffee shop, ada sebuah gedung pertunjukan: Gedung Kesenian Jakarta. Iya, gedung dimana biasa digelarnya pertunjukan demi pertunjukan. Bermain peran di panggung. Tentunya para seniman menunjukan kepiwaiannya dalam bermain peran di panggung yang mana akan mengaduk rasa penonton, seperti rasa senang, terharu, sedih, gundah, dan bangkit.

Siapa yang dapat bermain peran di panggung pertunjukan? Tentunya para seniman yang memiliki cerita yang akan disampaikan.

Eniwei. Bisakah tante bermain peran di panggung?

Jawabnya bisa. Apakah tante adalah seniman, jawabnya bukan. Lantas apa maksudnya? Dalam berbahasa, ada perluasan makna dan definisi kata/ kalimat.

14207872_10153949310963284_2162878859440913424_o

Setiap orang pasti bermain peran dalam kehidupan sehari-hari. Peran sebagai anak, kakak, adek, siswa, pegawai, penulis, dsb. Peran adalah kontribusi kita pada hal-hal yang bermanfaat.

Bagaimana kita menjalani peran kita? Lakukan dengan semangat dan bersungguh-sungguh. Apa iya? Iya tentu saja, karena seniman di panggung pun melakukan dengan sungguh-sungguh, mengapa kita tidak?

Tidaklah mudah bermain peran. Layaknya seniman yang harus memberikan penampilan yang terbaik dan mampu mengaduk rasa penontonnya. Demikianlah kita, semesta ini adalah panggung.

Kita umat manusia sedang bermain peran dengan berbagai topik pertunjukan. Maksudnya, banyak hal yang sedang kita lakukan.

Memahami perannya dengan menggali potensi yang ada. Kita perlu beradaptasi untuk sukses melakukan kolaborasi antara peran dan potensi yang ada. Tidak jarang bahwa apa peran kita adalah hal-hal yang tidak kita suka. Mengeluh untuk tidak senang terhadap skenario Allah adalah membuang waktu. Waktu terus berjalan, bahkan sangat cepat. Dulu kamu bayi, balita dan kini sudah genap 7 tahun. Dulu tante senang menyambut pekerjaan baru ini, kini harus menggali pandai dalam menggali potensi.

Mencari cara bertahan memberikan peran yang terbaik. Bertahan adalah cara anak cerdas dalam menghadapi hidup. Jalani hidup dengan menerbas keterbatasan. Mengapa? karena tidak ada yang bisa kita ubah selain usaha kita yang mengubahnya. Demikian pesan pemilik skenario dalam kitab petunjuknya, Al Qur’an. So, penilaian orang lain, anggaplah menjadi tantangan, meski perih sesaat.

14124520_10153954696698284_8478041285822764119_o

http://www.putumahendra.com

Tahapan selanjutnya dalam pertunjukan adalah menyampaikan dengan sungguh-sungguh. Setiap kerja keras yang telah kita kerjakan, wajib ditunjukan pada semesta bahwa usaha kita telah maksimal. Disinilah tantangan klimaks, bagaimana kita dapat mengaduk rasa penonton bahwa ia semua larut dalam pertunjukan kita. Mereka larut ikut serta dalam proses hidup kita, entah itu mereka nantinya akan puas, krtitis, senang, atau bahkan sebaliknya. Tentunya dengan kerja keras, semesta akan membantu kita mengolah rasa manusia yang ada didalamnya untuk usaha kita. Tanpa harus banyak bicara, semesta akan membantu menunjukkan pada seluruh umatnya. Disini, yakinlah semesta akan memberikan dukungan postif bagi mereka yang menjalankan nilai dengan positif.

14088413_10153954757308284_6464508521230925149_n

Tarik nafas sejenak atas selesainya penampilan/pertunjukan kita. Bermain peran yang baik adalah menyelesaikan pertunjukan dengan selesai. Ada masa selesai sudah pasti ada masa mulai, maka selesaikanlah apa yang telah dimulai.

Jadi Bil, penonton akan dapat menilai peran kita.

Semoga kebaikan ada disetiap pertunjukan demi pertunjukan kita. Isilah pertunjukan dengan nilai positif. Jadikan setiap pertunjukan sebagai legacy kita hingga akhirnya kita bertemu pertunjukan abadi: berakhir khusnul khotimah dan abadi di jannah Allah. 

14199489_10153949286273284_2114286554861642002_n

-Share of Joy sederhana bersama Tim-

Alhamdulillah. selesai mengerjakan project di kantor. Bersama tim baru saja menyelesaikan satu topik pertunjukan, mampu menggali potensi, menyampaikan dengan baik, bertahan ditengah tantangan baik lelah mental maupun fisik hingga akhirnya semua penonton senyum. Sudah saatnya secangkir cokelat hangat (sebenarnya tante tidak boleh minum Cokelat-eniwei) dan ruang menulis disini. Cukup. Mari kembali naik GoJek ke kantor. Pertunjukan selanjutnya akan segera dimulai.

-September, 2016

 

 

 

BREXIT and Free Movement on Islamic Finance Industries

11013446_10153090678338284_677608959309593587_n

BoE, July, 2015

Short documentation: 

In general the British exit (Brexit) issue is more political rather than economy. It began with the opinion of most British senior citizens who feel that the UK is bigger than Europe (Great Britain is not supposed to be ruled by the much smaller Brussel) and this was harnessed by politicians to be turned into a political issue.

The historical background, in 1991 the Maastricht Treaty/Treaty on European Union (TEU) was signed with a vision of integrating its member countries further more, amongst it is the plan of using Euro as a single currency.  The UK Prime Minister at the time, Tony Blair, filed a clause to “opt out”. Then in 2002 the EUR currency was launched and several EU member countries were listed in the European Monetary Union (EMU). The UK Chancellor at the time Gordon Brown, carried out five tests to assess the possibilities for UK to use EUR, which included 1) Economic Harmonization, 2) Sufficient Flexibility, 3) Effect on Investment, 4) Effect on Financial Services, and 5) Effect on Growth and Jobs, and the results showed that it was better for the UK to not join the EMU.

In its trade system, European Union also applies Single Market that means the European Union region as a territory with no internal border/barrier that obstructs the movement of goods and services. Should the UK exited EU, the benefit of the single market mechanism in European countries would still be enjoyed by both sides through bilateral cooperation.

Up to today the pro-EU position is still slightly ahead of pro-Brexit (45:40), and there is still a chance for pro-Brexit to win the votes because of the size of the undecided vote (15%). Should pro-EU won in the EU referendum, it would strengthen the political position of Cameron and the Conservative Party. Yet on the other hand should pro-Brexit won, many analysts predicted that Cameron would be pressured to resign.

Should Brexit won, the impact is predicted toward the Service Trade, 1) whether or not carrying out Brexit, the UK will still lose influence toward EU member countries that are heading into a more strict monetary and fiscal integration, 2) the UK kept rejecting EU regulations that will harm the City of London (i.e. financial transaction tax), 3) exiting EU enables the UK to become a center of global finance, and 4) exiting EU will not have any harmful effect for the UK and will not change the fundamental attraction of London.

One of the main Three Pillars of The European Union is the European Communities that include the aspects of economic, social, and environmental policies. It is interesting to observe the issue of Labor Force Movement (free movement), on Q1 2015, the number of EU population with working status in UK reached 1.9 million people[1].  These EU immigrants have rights on benefits (that includes tax credit) equal to the UK citizens, and it is a pull factor that triggers immigration and creates distortions in the labor force market[2]. Should the UK stayed in EU it would raise immigration policies problems. In the UK, immigration grows faster than the infrastructure that the public services become scarce and immigration can reduce the UK citizen wages. The Brexit could help in selection professional labor force who can work in the UK. That includes the free movement of expertise, and law firm in the field of Islamic Finance will be limited access in UK/EU. In the future the UK government can focus the developments on policies, education and industries in the Islamic Finance to maintain the UK position as the center of Global Islamic Finance Development. Certainly it would be supported by a renegotiation of its bilateral cooperation scheme with EU countries. (RATIH R./165/June)

[1] http://www.migrationobservatory.ox.ac.uk/briefings/migration-flows-a8-and-other-eu-migrants-and-uk

[2] Phillip Hammond, UK Foreign Secretary (http://www.ft.com/cms/s/0/805c2250-771b-11e5-933d-efcdc3c11c89.html#axzz3rfRiFB1E)

 

 

OJK launched Microfinance and Financial Inclusion Center

580333_10153557082918284_3246577804269969172_n

My Dad and I, December 2015, Belitong Island

Hi Bil, It is turning second years that I stay at your home. I do not know how many Saturday night without you and our big family. I always face my weekend with tired and just enjoying my lazy day. Saturday morning I go to gym to attend Yoga Class, if possible.

Last weekend, It was very tough because I have to handle big event at office. Thank God it was good and happy landing. Yippie.

My office hold an international seminar on microfinance and financial inclusion that the opening ceremony was opened by Mr. Vice President, Jusuf Kalla. Finally, after one year prepared to design the program, donor meetings and kick off OJK-PROKSI,

OJK-PROKSI is designed to become a reputable international microfinance and inclusion center that supports domestic and global poverty alleviation programs through the amplification of microfinance contribution to the increased access to finance. The Center support knowledge development and provide affordable learning platform on microfinance and inclusion for policy/decision makers, business and financial practitioners, academics, global communities and other relevant stakeholders, through learning, resources, and collaborations.

This Center was launched in conjunction with international Seminar titled: “Bringing Indonesia’s Microfinance and Financial Inclusion to the world”. This seminar was aimed to discuss the Indonesia’s vast practical experience in microfinance as well as challenges and opportunities in advancing an integrated development of Microfinance and Financial Inclusion.

– See more at:

Thank you my Dad for your stories and chance when we visited microfinance in Central Java.
Let’s learn microfinance and financial inclusion 🙂

[OJK] How to make a good presentation

Hi Bil,

Akhir tahun ini tante harus membantu Ibu dan Bapak pimpinan mempersiapkan bahan tayangan untuk project kami. Bahan tayangan tersebut sudah ada, namun perlu ada penambahan.

Tiba-tiba kepala berat karena tante lebih memikirkan hal-hal tidak penting (aduh nanti si bapak ibu berkenan tidak ya, aduh nanti cethek ga yah, aduh nanti oke ga yah) instead of membuat slides yang baik.

Oke, berikut adalah tips dari pak Mentor DFH untuk tante. Dalam membuat presentasi perlu dipikirkan alurnya dan apa yang klimaks akan disampaikan.

Misalnya, studi kasus akan menyampaikan: project baru yang belum pernah pimpinan lain tahu.

Alur yang bisa digunakan yaitu:

  1. WHY kita concern pada hal tersebut
  2. WHAT apa rencana program kita
  3. WHY mengapa program tsb kita pilih
  4. HOW
  5. WHEN
  6. WHAT HAVE DONE
  7. WHAT THE NEXT

IMG_20160102_105056

Mungkin itu salah satu alur yang dapat digunakan dalam menyampaikan project yang akan kita sampaikan.

Si Bil, presentasi itu penting. Yuk! belajar untuk mempersiapkan presentasi dengan baik. Dan catat: KITA yang HANDLE menentukan alur bukan para audience 🙂

HAPPY NEW YEAR 2016 dan SEMOGA Bahan Tayangan dapat membantu pimpinan kita.

 

-Januari, 2016

Tes Masuk OJK: OJT Kelompok -reposted

Ahe! Tahap selanjutnya setelah Klasikal adalah on the job training Kelompok. Dimasa ojt kelompok ini, akan ditugaskan kedalam satuan kerja setiap minggunya. Pikiran kita lebih akan mengacau memikirkan hal-hal yang pelik namun just do it. Saat saya menuliskan tulisan ini, alhamdulillah sudah ditahap akhir satker DPKU, iyeay! minggu depan saatnya untuk move on dari ojt kelompok. Tujuan ojt kelompok ini adalah mengkroscek ilmu yang telah didapat selama Klasikal dan fakta di lapangan. Berikut pengalaman ojt di satker kelompok saya, A3:

1. Kantor Regional OJK 3 yang berlokasi di Surabaya: disini kami belajar makna integrated supervision OJK. Alhamdulillah, kami memiliki pembimbing yang baik Ibu Esti dan Pak Rino. SDM KR OJK merupakan pegawai Bank Indonesia yang sedang ditugaskan ke OJK, mereka semua adalah pengawas perbankan. Dari KR OJK, saya belajar bagaimana berpikir secara runut dalam institusi regulator. Semangat integritas pegawai penugasan BI ini sangat luar biasa, layak dicontoh. Open minded people dan runut. Di KR OJK, saya menyempatkan sharing dengan rekanan kakak di BI bidang moneter dan LO. Kesempatan ini mempertemukan saya dengan Pak Djoko, beliau pernah ditugaskan di BI, PPATK dan APRA Australia. Di kelas bersama pak Djoko saya banyak belajar mengenai filosofi pembentukan suatu Lembaga Negara. Semoga dilain kesempatan bertemu beliau, topiknya: kerjama internasional. Tinggal di Surabaya cukup menarik, tata kota yang terjaga keindahannya (walikotanya Bu Risma), belum lagi kuliner Bebek yang super lezat dimana saja (bebek lover mode on) dan akses menikmati kota di luar Surabaya. Saya senang menikmati Kota Malang: alun-alun Kota Malang baik ketannya, susu segar pagi; udara sejuk daerah Batu Malang; nongkrong asik di kafe sambil bernostalgia bersama teman-teman HI UGM (KAGAMA is everywhere yaaa); dan menikmati pemandangan outdoor di Malang (a.k.a SEMPU) -hadaaah itu pantai sungguh kurang worth it untuk saya kesana lagi mengingat medan yang berat (berlumpur -hujan dan kurang safety, mungkin pastikan cuaca baik yah kalo kesana); kuliner di Malang itu nikmat! faktanya, perlu agenda extend semalam di Malang.

2. Direktorat Pengawasan Bank Syariah (DPBS): AHA! hello Thamrin, back to real city. Udara sejuk Jakarta sebelum pukul 06:00 itu lumanyan bisa diandalkan… pagi ini ojt di komplek Bank Indonesia di gedung A. Selama ojt di DPBS ini, kami menggali lebih dalam mengenai pengawasan perbankan syariah di Indonesia. Hari ini saya merasa: OMG saya masuk ke dalam sistem negara ini. Well, pengawasan PBS yang berbeda dari bank konvensional sangat menarik. Ditambah pula kultur yang Islami, Asslamu’alaikum, damai banget euy bersama orang-orang PBS ini. Disini saya bertemu pak Erwin, kawan angkatan kakak yang amazing laaah. Alhamdulillah kami landing dengan selamat pada presentasi mingguan. Ini berkat bimbingan pak Alvin dengan tagline-nya feel free laaah dalam berpendapat dan common sense-laaah.

3. Direktorat Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan (DPKP): Huwa ini satker nyentrik abis. Pengalaman yang sangat berharga mengenai moral dan etika tidak akan terlupakan. Para staf di DPKP bisa jadi terbiasa melakukan quality assurance terhadap hasil kinerja pengawas bank, so strict abis. Well disini saya bertemu dengan Pak Arif, babe yang memberikan motivasi luar biasa bagaimana memperhatikan gap generasi di Indonesia dalam bekerja; alert atas bottle neck karir di OJK; dan persiapan masa pensiun.

4. Direktorat Pasar Modal Syariah (DPMS): yeap! keluar dari pengawasan perbankan sejenak. Ojt kali ini menggali pasar modal syariah di Indonesia. Para staf di DPMS merupakan pegawai ex. Bappepam. Uwalaaa…. kultur bekerja yang berbeda dari dua tempat ojt sebelumnya. Di DPMS, lebih pada guyub dari level Direktur ke staf biasa. Suasana kantor ya kurang rapi sih untuk ukuran kerapihan saya dan guyub somehow kemriyek membuat pusing kepala saya. Well, mereka memiliki gaya bekerja yang tidak dapat dibandingkan apple to apple dengan kultur Bank Indonesia. Disinilah ‘seninya’ sebagai PCS Angaktan I untuk memfasilitasi gap culture yang ada, so far sih sudah ada direktorat culture sih, it is not big deal laaah ya. Jika ditanya dan bisa memilih, semoga tidak kembali kemari yah, bisa stres nanti saya. Oia, saya bertemu dengan KAGAMA FEB 2005, Danu. Uwalah it is small world yaaa.

5. Direktorat Pengawasan Dana Pensiun (DPDP): Direktorat ini cukup unik mengingat industri Dana Pensiun pun juga unik. Pengawasan disini menggunakan tools SPERIS dan SANBERRIS. Mirip dengan perbankan yang berbasiskan risiko. Well, kami menyampaikan presentasi perbandingan pengawasan perbankan dan dana pensiun. Spirit dari presentasi ini adalah sharing knowledge pengawas. Iyeas! happy landing. 

6. Direktorat Pengendalian Kualitas (DPKU): direktorat ini super uniiik karena fungsi quality assurans atas organisasi OJK Wide ada disini. Kami diminta untuk menganalisa organisasi OJK Indonesia dengan benchmarking dengan OJK di negara lain. Huwalaha berhubung kelompok kecil saya tidak ada yang memiliki educational background manajemen, ini menjadi ilmu baru. Semoga kami happy landing…

Setelah on the job training kelompok di satuan kerja kami harus mengikuti SEMAPTA, parahnya sebagai wajib militer mungkinnya. Banyak cerita riweuh hidup di dalam barak selama SEMAPTA, makan banyak, lariiii dan wajah gosong pasca SEMAPTA membuat saya kurang antusias.

TIADA yang lebih menegangkan selain penantian pembukaan amplop penempatan masa ojt individu -yang notabene merupakan calon satuan kerja penempatan permanen masing-masing. HIKS! Semoga ditempatkan di tempat yang terbaik, ya Allah.

-Ratih, Bidakara, Mei 2014

Tes OJK Time Flies so Fast: Kesempatan Berkarir dan Berkarya di OJK

Picture 12

web ppm mandiri

Trata! Waktu berjalan sangat cepat
Setahun telah berlalu dengan cepatnya
Menarik kebelakang waktu, dimana tante masih mencari pertanyaan atas kantor mana yang mampu membuat ‘berhenti hijrah’
Otoritas Jasa Keuangan baru dibuka pada saat itu. Sebagai lembaga baru, masih bayi.
Keyakinan mendaftar hanyalah satu ‘ini partner Bank Indonesia dalam menjalankan ekonomi yang khusus pada mikro prudensial’
Artinya, kebanyakan pegawainya adalah penugasan dari Bank Indonesia, singkatnya asiik nih kerja bareng orang-orang BI. Yeap! good culture, integritas tinggi, dan senantiasa belajar selalu.

Si Bil, semoga tante tetap mengingat energi proses rekruitmen yang sungguh menyita energi, doa serta keikhlas-an. Si Bil, belajar baik-baik yaaa… boleh nanti berkarir dengan ilmu kayak Bunda atau Ayah dan tante mah ga jauh beda. Yang penting, ingat syaratnya “pegang dulu ticket lulusnya….(ijazah perguruan tinggi)…”

Dimana pun kita bekerja, wanita lelaki pun bekerja untuk tanggung jawab kepada orang tua yang telah sangat tinggi menyekolahkan kita. Jadi anak perempun pun harus mandiri dengan bekerja. Di kantor, tante banyak bertemu teman-teman PCPM ayahmu, they look so passionate with their job. Just like your father and mom. Belajar yang pinter ya anak manis, semoga bisa meneruskan rasanya atmosfir bekerja di gedung kembar BI. Amazing deh!

Mari menulis Tugas Akhir!

Bintaro, Sabtu, 4 Oktober 2014

EPK OJK: Survei Nasional Literasi Keuangan

Literasi keuangan sangatlah penting guna memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap produk dan jenis industri jasa keuangan. Yang dimaksud dengan literasi keuangan adalah rangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan :
 pengetahuan (knowledge);
 keterampilan (skill); dan
 keyakinan (confidence);
konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik.

Otoritas Jasa Keuangan memiliki peranan dalam literasi jasa keuangan yang mana memiliki tujuan literasi keuangan yaitu pertama, meningkatkan literasi seseorang yang sebelumnya less/not literate menjadi well literate. Kedua, meningkatkan jumlah pengguna produk dan jasa keuangan

Sebelum menyusun cetak biru Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia, OJK melakukan survei nasional yang bertujuan untuk:
1. Memetakan tingkat literasi keuangan terkini dari seluruh kelompok masyarakat di Indonesia;
2. Menyiapkan bahan penyusunan Cetak Biru Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia;
3. Mengukur efektivitas program edukasi keuangan kepada masyarakat; dan
4. Mendorong lembaga jasa keuangan untuk mengembangkan produk dan jasa keuangan yang dibutuhkan masyarakat.

Survei Nasional Literasi Keuangan telah dilaksanakan pada tahun 2013 di 20 provinsi dengan melibatkan 8.000 orang responden, dengan profil sebagai berikut: gender, usia, tingkat pendidikan, perkerjaan, strata wilayah, strata sosial.

Klasifikasi Hasil Survei
Picture 11

Indeks Literasi Keuangan
Picture 10

Hasil Survei Nasional Literasi Keuangan (SNKLI) ini selanjutnya menjadi masukan dalam menyusun Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia.
Dengan visi mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi (well literate), sehingga memiliki kemampuan atau keyakinan untuk memilih dan memanfaatkan produk dan jasa keuangan guna meningkatkan kesejahteraan. Prinsip yang digunakan yaitu inklusif, Sistematis & Terukur, Kemudahan Akses, Kolaborasi. Target dalam SNLKI ini memperoleh well literate society. Pilar yang digunakan dalam mencapainya yaitu Edukasi dan Kampanye Nasional, Penguatan Infrastruktur, Pengembangan Produk dan Jasa Keuangan yang mana dibantu oleh para stake holder.

Sumber: Survei Nasional Literasi Keuangan, EPK, 2014

Tes Masuk OJK: First Project Ingat Allah, bersyukur!

bali pic

Hi Bil, seminggu lalu tante full 7 hari bekerja di Seminyak, Bali. Ini acara pertama yang tante handle terkait “Integrated Supervision”. OJK yang notabene masih bayi baru lahir harus banyak belajar darimana saja. Kebetulan workshop week minggu lalu adalah bagian dari MoU OJK-JFSA, yaitu sharing knowledge. Workshop ini sudah level intermediate, tante dibantu oleh tim DPSM dan panitia kecil dari perbankan mencari nama-nama peserta dari ketiga core bisnis OJK (perbankan, pasar modal, IKNB) dan BI. Persiapan hanya H-14 cukup membuat dabag-dubug karena tante dan teman PCS lainnya belum paham flow internal OJK untuk sebuah acara. Alhamdulillah berjalan lancar hingga selesai.

Well, yang ingin tante sampaikan adalah bekerjalah dengan sabar dan positive thinking. Kurang baik bila merasa pekerjaan yang diberikan didepan mata merupakan hal teknis yang telah biasa dilakukan. Kurang baik bila mengikuti ego bahwa seharusnya kita dapat melakukan lebih. Dua hal tersebut selalu tante tanamkan dalam hati, perlahan-lahan apabila terasa lelah dan ego mulai muncul, kita dapat merasa tenang. Ingat Allah, bersyukur.
Sudah alhamdulillah dapat pekerjaan yang dipandang orang lain baik, sudah alhamdulillah diberi nikmat sehat dan dapat bagun pagi.

Dalam hal ini, tante teringat mengapa Ayahmu sangat kekeuh bahwa passion itu ya cara kita menikmati apa yang ada didepan mata, karena sering dalam hidup kita tidak dapat memilih (terlalu banyak).

Oke Bil, tante harus kembali bekerja. Fyi, krl jam 06.03 penuh cuiii so tante harus menghormati jerih payah badan ini yang telah mau diajak berlari-lari dan gencet-gencet di krl.
Yuk produktif!

Miss you, Bil in London.

-Tante, Gedung Soemitro, 2 September 2014.

bil in london

Tes Masuk PCS OJK: P Muliaman D Hadad & PCS

img1402055969513

Moderator Diskusi bersama Bp Muliaman D Hadad

Senang dapat proactive meramaikan kegiatan PCS diskusi bersama Pak Muliaman D Hadad, 6 Juni 2014 sebagai moderator ber-partner dengan Irwan, Kelas E. Didaulat sebagai moderator mengingatkan saya pada masa-masa menyenangkan di Jogja: moderator, peneliti, staf komunikasi, dan dealing person. Eniwei, diskusi dengan P Muliaman mengalir dengan berbagai topik menarik, antara lain:

Pertama, penempatan pertama beliau di Mataram saat PCPM Bank Indonesia. Beliau banyak bercerita bagaimana kita dapat menyikapi keputusan dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita meski terlihat berat. Pesannya, terimalah dengan ikhlas dengan demikian dapat mengerjakan dengan sebaik-baiknya apa yang seharusnya dikerjakan. Kedua, Motivasi untuk membaca buku. Ketiga, Perbankan syariah di Indonesia. Keempat, work life balance sesuai hobi masing-masing. Kelima, masa depan OJK. Topik ini sangat menarik, beliau menjelaskan secara mengalir bagaimana OJK harus kokoh dari internal untuk memberikan services terbaik kepada industri dan masyarakat Indonesia melalui kegiatan dan fungsi OJK. Berbagai kerjasama, perbaikan internal, berbagai program pengembangan SDM dilaksanakan untuk mencapai target masa trasisi tsb. Belum lagi ditambah dengan eskpektasi industries terhadap kinerja OJK terkait pungutan. Almost two hours bersama cerita-cerita inspirasi beliau.

Lesson learned: Ada yang berbeda dalam menjadi moderator kali ini, penting untuk menggali lebih dalam sosok calon pembicara sebelum di atas panggung. Saya terlupa bahwa beliau memiliki karakter pencerita yang menyenangkan. Dengan demikian, tidak memungkinkan untuk tek tok takan dengan cepat. Senang dapat membantu beliau dalam ‘membisiki kata’ saat lupa kosakata yang tepat. Hihihi kapan lagi membisiki RI 1 OJK 2014. Let it flow.

Terima kasih saya ucapkan kepada tim DPSM: Pak Toto, Pak Horas, Pak Rifqi, Ibu Miranti, dan Irwan dalam mempercayakan diskusi ini meski sangat jauh dari kesempurnaan.

Samapta: LogFrame Budget and Program

Terbiasa untuk bertanggung jawab atas sebuah program, membuat saya ketat terhadap budgeting, gawang penjagaan budget, implementasi dan monitoring & evaluation sebuah program. Sebagai seorang program officer terlebih untuk level national manager program sudah pasti akan dituntut oleh penyumbang dana bertanggung jawab pada dana mereka. It is not easy for our team mengelola program. 

Tulisan ini akan mengantarkan pada evaluasi pada suatu program dalam pendidikan calon staf saya yang diadakan oleh kantor, sudah pasti tujuannya untuk merekam jejak masa lalu agar dapat digunakan dimasa depan.

Samapta. Kegiatan selama sembilan hari yang ‘harus’ dilaksanakan oleh tim pengembangan SDM dalam proses pendidikan stafnya, terlebih bagi pegawai lembaga negara. Bila saya memandang dalam kacamata lama sebagai staf swasta dan non lembaga negara, pasti akan merasa ini kurang worth it karena tidak profit oriented terkait core business, akan lebih baik menginvestasikan training sesuai kebutuhan. Namun bagi pengembangan SDM di lembaga negara, kegiatan ini merupakan hal fundamental dalam meletakan dasar pengetahuan tentang Indonesia as a state dan sudah pasti menjadi ‘advantage dalam menjalankan core business‘. 

Well, mengapa perlu diadakan oleh vendor berbasis militer? bisa jadi karena tingkat kedisiplinan, ketahanan fisik, mental, teknik siap siaga dalam problem solving mereka sudah teruji serta mampu menampung & menghandle massa dalam jumlah super banyak.

Berikut beberapa tips dan lesson learned dari program kegiatan Semapta tempo waktu:

1. Mindset. Tips, pastikan mindset kita dalam mengikuti kegiatan ini adalah vendor telah dipercaya oleh kantor dalam melaksanakan kegiatan tsb dan telah mampu menerjemahkan Term Of Reference (TOR) dari principal dalam sebuah program untuk peserta. Mindset ini selalu saya pegang disaat kondisi diluar dugaan. It was happen. Dan mindset ini menyelamatkan saya untuk bersabar dalam mengikuti program hingga selesai (meskipun sepakat waktu terasa sangat lama).

2. Finansial. Lesson learned, dalam men-delevop suatu program, sudah pasti finansial menjadi hal utama yang dibutuhkan. Tidak jarang ditemukan bahwa third party terkesan ‘nakal memproyek’ kegiatan yang dipercayakan padanya, apapun itu entah pengurangan-pengurangan baik program maupun kualitas produk yang tidak sesuai presentasi di awal. It was happen sepanjang saya berperan sebagai principal sangat harus mengawal sebuah IMPLEMENTASI program disesuaikan BUDGET yang ada dan telah disepakati/ bayarkan karena sebagai principal tidak serta merta kita dapat menyerahkan sepenuhnya kepada vendor, terdapat fungsi MONITORING & Evaluation. Tips, assessment awal pada vendor merupakan hal yang patut dilakukan. Dalam konteks kegiatan Semapta perlu dilakukan: a. Kesesuaian Kurikulum request dari Principal. Hal ini mengingat peserta nantinya akan dalam suatu kegiatan berkonteks pendidikan. b. tes foods (prinsip saya, makanan menjadi hal utama sebagai pemenuhan gizi, energi, dan juga selera menikmati hari-hari–beyond the Food) sempat disaat sharing session, ada nada nyinyir mengenai menu. Faktanya, saya melihat mereka pun mengeluh dalam makan siang mereka. It seems like two face of sen coin. Karena saya termasuk yang concern pada asupan gizi dan energi sebagai modal utama manusia beraktivitas: bukan karbohidrat yang paling banyak, namun bagaimana dalam satu penyajian makanan terpenuhi gizi seimbang yang sudah pasti diimbangi oleh cara memasak & penyajian yang baik dan benar. even it is a military system, we have to concern with hygiene, ex. SMA Taruna Nusantara did the great things. Prinsipnya pola hidup sehat sudah seharusnya tersirat dalam pendidikan Semapta tsb. Sebagai principal yang telah berinvestasi dalam jumlah tidak sedikit sudah seharusnya mendapatkan hygiene atas penyajian makanan (no rats, no cats, no dogs surroundings the kitchen). c. tes akomodasi yes exactly that the event seems like military education system, but we have to re-thinking: how much rupiahs which already company was spent to it, wasn’t? d. apakah peserta akan costly lagi atau tinggal fokus mengikuti acara? Costly disini maksudnya, apakah peserta akan spend more energy untuk mengikuti kegiatan. Dalam tim, biasanya supervisor saya selalu memantau secara details persiapan dan sejauh mana kegiatan on track, “tolong kalian persiapkan dan pantau baik-baik, jangan sampai benef tombok (mengeluarkan uang untuk program kita atau kesusahan tidak nyaman selama program)”. It was happen dalam Semapta, suddenly we had to spend our money for bottles of mineral waters and every finished the session they suggested us went to canteen with highly mark up price. I remember when Sari Roti Rombong stocked to the canteen, we bought from him with low price, then the canteen rejected all his breads due to he sold to us with low price. WTH. Eniwei, After we advised the HRD when they was visiting us, we got the bottle of minerals waters. As rationale people, me and several friends aware about it. Tips please bring your cash money, in case the committee need your funding support. It was happen when they suggested to us for held ‘Gambing Guling Party, 60.000 rupiahs/ person’. We rejected. 

Merasa yakin bahwa finansial APBN turut terpakai dalam kegiatan ini, sudah seharusnya ada kritik yang membangun dalam setiap program dan kinerja dalam organisasi ini lakukan. Tujuan sudah pasti kedepan lebih baik.

Image3. Sebar informan 

Dalam dunia development, sudah pasti berurusan dengan people oriented. It means, masalah apapun di lapangan sedetail apapun, terkesan sepele apapun sangat berarti bagi reporting tanggung jawab kepada pemilik dana. Saya ingat betul bagaimana saya harus belajar melaporkan hal yang saya anggap sepele di lapangan namun itu perlu sangat ditulis. Mengapa? karena ini bukan hitungan kuantitatif semata, sukses atau tidaknya suatu program berdasarka people oriented pun terdapat penilaian kualitatif didalamnya. Penilaian-penilaian itulah yang perlu dikroscek dan seimbangkan.

We can differentiate between our rights or not, our objective already balance or not with the implementation, our result in the end of the program already made sense or not with our outcomes. So, it called ‘Logical Frame Work of Program (LogFrame)’- please, browsing: log frame approach.

 

Image

Log Frame USAID Framework, 2012

When developing a LogFrame, the project design team most often starts from the top and works down. Beginning with the Goal usually defined by the identified DO from the Mission strategy (CDCS), the team will then select the Intermediate Result (IR) that is the starting point for the Purpose of the project. There is flexibility to set the Purpose and Goal at higher or lower levels of the RF (for example, setting the Goal at an IR, and the Purpose at a Sub-IR.

1. The team will conduct a problem analysis (e.g. Fishbone Analysis or a Problem Tree) in order to focus the Purpose statement.

2. From that process the team will identify and select the full set of Outputs, or lower level results, that must be both necessary and when taken together sufficient to achieve the Purpose, given the assumptions.

3. Note that in large or complex projects it is likely that an additional level of “Sub-Purposes” will be necessary, when the causal “leap” from Outputs to Purpose may be too great.

4. At the lowest level of the LogFrame matrix are Inputs. These are the activities as well as resources invested in the project, for example funds, equipment, training, etc. to achieve the Outputs.

5. Throughout this process the LogFrame is informed by mandatory Gender, Environmental and Sustainability analyses as well as any supplemental analytical work that the Mission deems necessary.

6. The hierarchy between levels can be tested by asking the questions “how” when moving down the causal chain, “why or “so what” when moving up the causal chain, and “what else” at each level, verifying that the necessary and sufficient results are identified at each level. Working from the top-level result to the bottom ensures that the project design is consistent with the Mission strategy. Working from the bottom up, including assumptions, verifies the logic and increases likelihood of success.

Source: Log Frame USAID Framework, NUMBER 2 VERSION 1.0, DEC 2012

 Credit to: my supervisor Mrs. Diana S, all team ‘our funding’ Java Reconstruction Fund: World Bank team, UN-ECHO, EU, GIZ, IOM, USAID friends, for special lesson about Development. See you, guys and please enjoy your passion.